Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Masa Depan Film Superhero, Penonton Mulai Bosan?

Kamis 10 Jun 2021 20:00 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti

 FIlm superhero (ilustrasi).

FIlm superhero (ilustrasi).

Foto: MCU.
Pada 1990-an, film superhero adaptasi komik dianggap lelucon di Hollywood.

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES -- Genre film superhero mendominasi layar lebar selama beberapa tahun terakhir. Bisa dibilang, genre tersebut menjadi sumber kehidupan dari seluruh model ekonomi industri hiburan saat ini.

Marvel Cinematic Universe, DC Extended Universe, hingga Universe of Marvel Characters, telah mempertahankan dominasi genre superhero dengan ekspansi yang stabil. Setelah 20 tahun meningkatnya minat pada genre ini, muncul ancaman kebosanan pada film bergenre superhero.

Ancaman itu mungkin belum muncul sepenuhnya, dan kemungkinan tidak dalam waktu dekat. Namun bukan berarti genre tersebut bisa tetap statis atau stagnan sebab tantangan masih terus mengintai.

Pada 1970-an dan 1980-an, film Superman dan Star Wars menjadi blockbuster yang sangat bisa diandalkan, lalu muncul Batman. Pada 1990-an, film adaptasi dari komik itu dianggap lelucon di Hollywood. Hingga akhirnya memasuki tahun 2000-an, muncul X-Men dan Spiderman yang mematahkan semua paradigma itu.

"Pada 2002, The Bourne Identity mengubah cara pandang masyarakat tentang film mata-mata. Film itu memaksa penggambaran ulang James Bond sebagai mata-mata, yang digambarkan oleh Daniel Craig di Casino Royale," ujar salah satu pendiri dan CFO Dawn's Light Media, Jason Cherubini.

Sejak itu, hiburan superhero di layar lebar telah memperluas semesta sinematiknya ke berbagai properti dan media, yang sering menyentuh berbagai genre. Film The Dark Knight Rises karya Christoper Nolan adalah risalah penuh aksi tentang pembagian sosial ekonomi antarkelas.

 

"Penerimaan oleh publik yang mengonsumsi hiburan atas perluasan apa yang dianggap sebagai film superhero telah melampaui Marvel," kata Cherubini.

"Untuk semua kesalahan langkah yang diambil DC ketika menciptakan jagat sinematik, mereka mampu menceritakan film tentang kesehatan mental melalui sudut pandang karakter yang dikenal, Joker," ujarnya lagi.

Suka atau tidak, film Joker telah menghasilkan 1 miliar dolar AS di box office seluruh dunia. DC melanjutkan kesuksesan itu di dunia pertelevisian, dengan menargetkan penonton dewasa muda melalui The CW Arrowverse dan menggunakan kembali beberapa properti superhero untuk menceritakan kisah buku komik yang tidak biasa seperti Doom Patrol dan Harley Quinn.

Sekarang, serial superhero produksi Disney+ dan Marvel juga memberikan kesempatan untuk menyoroti karakter sekunder, dengan cara maju ke arah penceritaan yang unik. Profesor di Sekolah Tinggi Seni Visual dan Pertunjukan Syracuse University yang mengajar Retorika Film: Marvel Cinematic Universe, Kendall Phillips, mengatakan kebosanan genre superhero belum menjadi ancaman nyata, meskipun ada beberapa proyek baru yang gagal seperti Legacy Jupiter, Bloodshot, atau Hellboy.

Phillips merujuk Avengers: Endgame sebagai semacam akhir musim atau seri dari inkarnasi pertama MCU, sebagai jalan keluar yang logis untuk penggemar. Saat Marvel meningkatkan Fase IV, wajar untuk bertanya-tanya apakah itu bisa mengumpulkan daya tarik massa yang sama atau tidak. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Marvel mengalihkan fokusnya pada layanan streaming.

"Setiap waralaba kecuali James Bond membuat orang lelah. Biar bagaimanapun, penonton akan terus mendukung film sampai pasarnya kering, idenya habis, dan eksekusinya tidak ada," kata mantan wakil ketua kelompok film di Paramount Pictures, Barry London, seperti dilansir di laman Observer, Kamis (10/6).

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA