Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Peneliti Kembangkan Sistem AI untuk Lawan Informasi Palsu

Kamis 10 Jun 2021 07:23 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Berita-berota hoaks terkait vakisn Covid-19 masih kerap ditemukan beredar (ilustrasi)

Berita-berota hoaks terkait vakisn Covid-19 masih kerap ditemukan beredar (ilustrasi)

Foto: Republika
Kecerdasan buatan dari MIT bisa mendeteksi disinformasi hingga akurasi 96 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, CAMBRIDGE -- Kampanye disinformasi menjadi semakin sering di jejaring sosial, terutama menjelang pemilihan. Kampanye semacam itu mampu memanipulasi opini, memperkuat teori konspirasi atau bahkan menggoyahkan pemilu.

Untuk mengatasi bahaya baru ini, para peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) merancang sistem kecerdasan buatan yang mampu mengidentifikasi berita palsu dengan sangat akurat.

Baca Juga

Dilansir dari Malay Mail, Kamis (10/6), dalam upaya memerangi disinformasi online dan membersihkan internet, tim peneliti MIT telah meluncurkan program yang disebut Reconnaissance of Influence Operations (RIO).

Tujuan mereka adalah menciptakan sistem yang mampu secara otomatis mendeteksi disinformasi dan akun yang menyebarkannya. Tingkat keberhasilannya sekitar 96 persen.

Proyek ini pertama kali dimulai pada 2014, ketika tim sedang mempelajari bagaimana media sosial dapat dieksploitasi oleh kelompok jahat. Sebagai bagian dari pekerjaan, para peneliti melihat aktivitas yang meningkat dan tidak biasa dari akun yang tampaknya mendorong cerita pro-Rusia.

Akibatnya, tim memutuskan untuk meluncurkan program untuk mempelajari teknik serupa apa yang mungkin digunakan di media sosial selama pemilihan presiden Prancis 2017.  Dalam 30 hari menjelang pemungutan suara, tim mengumpulkan 28 juta posting dari lebih dari satu juta akun yang berkaitan dengan pemilihan.

Misalnya, penelitian tersebut mendeteksi sejumlah besar akun tidak ramah yang menyebarkan berita palsu seputar narasi #macronleaks.

Tim penelitian yang melihat dampak dari pesan disinformasi. Dengan menggunakan program RIO, mereka dapat mengetahui apakah sebuah akun berkontribusi terhadap penyebaran berita palsu dan apa dampaknya pada jaringan yang lebih luas. RIO juga memiliki kemampuan untuk membantu memprediksi bagaimana tindakan pencegahan yang berbeda dapat menghentikan penyebaran kampanye disinformasi tertentu.

Operasi pengaruh online yang tidak ramah

Anggota tim peneliti, Edward Kao mengatakan kepada MIT News: “Jika Anda mencoba menjawab pertanyaan tentang siapa yang berpengaruh di jejaring sosial, secara tradisional, orang melihat jumlah aktivitas. Apa yang kami temukan adalah, dalam banyak kasus ini tidak cukup,” ujarnya.

Itu tidak benar-benar memberitahu Anda dampak akun di jejaring sosial. Untuk mengatasi hal ini, Kao mengembangkan pendekatan statistik (sebagaimana diuraikan dalam penelitian ini) untuk membantu menentukan apakah sebuah akun menyebarkan disinformasi dan sejauh mana akun tersebut menyebabkan jaringan, secara keseluruhan, mengubah dan memperkuat pesan.

Sistem RIO mengumpulkan data yang relevan kemudian mengidentifikasi narasi operasi pengaruh potensial, dan mengklasifikasikan akun berdasarkan perilaku dan kontennya. Kemudian membangun jaringan naratif untuk memperkirakan dampak akun-akun ini dalam menyebarkan narasi tertentu di media sosial.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA