Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Cara Harun Al Rasyid Angkat Peradaban Islam dari Barat

Kamis 10 Jun 2021 05:54 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Harun Al Rasyid merupakan sosok yang berhasil memimpin Abbasiyah. Ilustrasi.

Harun Al Rasyid merupakan sosok yang berhasil memimpin Abbasiyah. Ilustrasi.

Foto: Civilization.wikia.com
Harun Al Rasyid merupakan sosok yang berhasil memimpin Abbasiyah

REPUBLIKA.CO.ID,- Sultan Harun Al Rasyid (766-809) masih berumur muda saat menjadi penguasa Dinasti Abbasiyah yaitu 20 tahun. Namun, kharismanya sudah terbangun bahkan sebelum dirinya naik takhta.

Sebagai putra Khalifah Muhammad Al Mahdi (745-785), ia tampil memukau dalam memimpin pasukan Muslimin untuk menggempur basis pertahanan Romawi Timur (Bizantium). Ia meraih kemenangan demi kemenangan sehingga musuh menyingkir jauh dari wilayah kekhalifahan.

Bahkan, Harun al-Rasyid dapat menguasai Ankara. Sedikit lagi mencapai jantung Bizantium, Konstantinopel. Meskipun urung menaklukkan ibu kota lawan, ia tetap mendapatkan pengakuan sebagai pemenang. Ratu Irene Sarantapechaina (752-803) bersedia mengirimkan upeti berupa puluhan ribu keping emas per tahun kepada Baghdad.

Bagaimanapun, Harun melihat ada lagi harta yang terpendam selain kemilau logam mulia. Seperti diceritakan Roger Garaudy dalam Promesses de l'Islam, sang pemimpin Muslim itu tak menuntut ganti kerugian perang kepada Bizantium. Ia hanya mendesak musuh untuk menyerahkan manuskrip-manuskrip kuno kepadanya.

Ratu Irene pun mematuhi persyaratan itu. Memang, berbeda kondisinya dengan negeri-negeri Islam kala itu. Barat masih terpuruk dalam stagnansi. Geliat intelektualnya kalah jauh dengan wilayah-wilayah Muslim, semisal Baghdad, Basrah, Damaskus, ataupun Andalusia. Peradaban Islam pada masa itu sangat condong pada literasi.

Menurut Roger Garaudy, para sultan menyokong perkembangan ilmu pengetahuan dengan sepenuh hati. Umat Islam terbuka terhadap warisan yang kaya dari kebudayaan-kebudayaan dunia yang berusia lebih tua semisal Yunani, Persia, atau Cina. Muslim menghidupkannya dan memperbaruinya dengan worldview yang sejalan Alquran dan sunnah.

Sesungguhnya, 100 tahun pertama Dinasti Abbasiyah dipimpin para sultan yang mewujudkan kemajuan negeri. Khususnya, sejak zaman khalifah Al Mahdi hingga khalifah Al Mutawakkil (847-861). Bagaimanapun, era pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid merupakan tonggak penting dalam membuka progres itu lebih lanjut lagi.

Puncak kejayaan Islam pada Abad Pertengahan dapat dikatakan bermula sejak masa kekuasaan dirinya serta kemudian anaknya, Abu al-'Abbas Abdullah alias Al Mamun (786-833). Itu terjadi di belahan dunia timur. Pada saat yang bersamaan, di belahan dunia barat, tepatnya Andalusia, peradaban Islam pun bersemi, terutama sejak kepemimpinan amir Kordoba, Abdurrahman II (792-852).  

Harun Al Rasyid memegang tampuk pemerintahan sejak 14 September 786. Ia menggantikan saudaranya, Khalifah al-Hadi (764-786), yang hanya berkuasa selama satu tahun. Tepat di hari pelantikannya, putranya lahir, yakni Al Makmun. Sultan Harun mengangkat seorang ulama yang karismatik untuk menjadi perdana menterinya. 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA