Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Serangan Kebencian terhadap Muslim di Kanada Selalu Berulang

Rabu 09 Jun 2021 18:02 WIB

Red: Agung Sasongko

Perdana Menteri Justin Trudeau bergabung dengan ribuan pelayat yang berduka akibat serangan islamofobia pada keluarga muslim

Perdana Menteri Justin Trudeau bergabung dengan ribuan pelayat yang berduka akibat serangan islamofobia pada keluarga muslim

Foto: News RTHK
Ironisnya serangan terhadap Muslim tidak disebut sebagai teroris.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kejadian tragis yang dialami sebuah keluarg Muslim di London, Ontario, Kanada, Ahad Malam, mengejutkan banyak pihak. Secara brutal pelaku menabrak keluarga tersebut dengan truk pick-up.

Apa yang terjadi merupakan pengulangan serangan kebencian terhadap Muslim. Insiden terakhir ini bahkan dinilai otoritas Kanada sebagai serangan Islamofobia paling mengerikan. 

Baca Juga

Ironisnya, seperti kebanyakan negara Barat, juga Kanada, tidak mendefinisikan serangan terhadap Muslim sebagai teroris. 

Berikut daftar serangan terhadap Muslim di Kanada seperti dilansir TRT, Rabu (9/6):

Serangan Masjid Quebec

Pada akhir Januari 2017, Alexandre Bissonnete, seorang mahasiswa berusia 27 tahun, seorang mantan Kadet Angkatan Darat Kanada menyerang Islamic Center di Quebec. Enam jamaah tewas, dan lima terluka dalam insiden tersebut.

Bissonnette memiliki motif yang sama dengan pelaku penembakan Masjid Christchurch, Selandia Baru, Brenton Tarrant, seorang warga negara Australia. Sang penyerang akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. M

eski PM Kanada Justrin Trudeau menyebut serangan tersebut sebagai teror namun pelaku tidak pernah dihukum menurut UU Terorisme Kanada.

Pada tahun 2017, serangan Islamofobia di Kanada alami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan serangan kebencian terhadap komunitas Muslim mencapai 207 persen.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA