Sunday, 13 Jumadil Akhir 1443 / 16 January 2022

Mentan Syahrul: Produksi Pangan 2020 Alami Peningkatan

Rabu 09 Jun 2021 17:49 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution / Red: Hiru Muhammad

Buruh tani memanen bawang merah berumur 55 hari dari yang seharusnya dipanen pada usia 70-75 hari di area persawahan Desa Paron, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (13/6/2020). Belasan hektar lahan pertanian bawang merah di daerah itu terpaksa panen dini dengan risiko hasil panen menurun hingga 30 persen guna menanggulangi kerugian yang lebih besar akibat serangan ulat grayak

Buruh tani memanen bawang merah berumur 55 hari dari yang seharusnya dipanen pada usia 70-75 hari di area persawahan Desa Paron, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (13/6/2020). Belasan hektar lahan pertanian bawang merah di daerah itu terpaksa panen dini dengan risiko hasil panen menurun hingga 30 persen guna menanggulangi kerugian yang lebih besar akibat serangan ulat grayak

Foto: ANTARA/Prasetia Fauzani
Realisasi komoditas pertanian seperti jagung, bawang merah, cabai melampaui target

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengklaim, penggunaan anggaran Kementerian Pertanian selama ini telah termanfaatkan dengan baik hal itu lantas berdampak pada terjadinya peningkatan produksi pangan secara nasional sepanjang 2020.

“Capaian produksi padi tahun 2020 mencapai 54,65 juta ton, lebih tinggi 0,09 persen dari produksi tahun 2019,” kata Syahrul dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR, Rabu (9/6).

Syahrul mengatakan, beberapa produksi komoditas pangan lainnya seperti jagung, bawang merah, cabai, dan daging sapi dan kerbau realisasinya juga melampaui target. Produksi jagung 23,09 juta ton atau 101 persen dari target, produksi bawang merah 1,81 juta ton atau 113 persen dari target, produksi cabai 2,77 juta ton atau 105 persen dari target, dan produksi daging sapi/kerbau mencapai 0,54 juta ton atau 132 persen dari target.

Syahrul juga menyebutkan program akselerasi ekspor yang dilaksanakan selama tahun anggaran 2020 hingga saat ini telah berdampak positif terhadap peningkatan nilai ekspor pertanian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor produk pertanian selama Januari – Desember 2020 sebanyaj Rp 451,8 triliun atau meningkat 15,79 persen dibandingkan tahun 2019 senilai Rp 390,2 triliun.

“Sementara pada periode Januari–April 2021, ekspor pertanian mencapai Rp 189,09 triliun, tumbuh 34,97 persen dibanding periode yang sama,” tuturnya.

Seiring dengan meningkatnya kinerja produksi dan ekspor pangan, Syahrul menyebutkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional pun turut meningkat, bahkan saat pandemi Covid-19.

“Selama tahun 2020, hampir seluruh sektor ekonomi Indonesia tumbuh negatif, sebaliknya sektor pertanian mampu tumbuh positif,” ujarnya.

Syahrul juga secara khusus menyebutkan pada kuartal II 2020 dimana pandemi Covid-19 mulai masif di Indonesia, produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh 16,24 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Itu terjadi di saat sektor lainnya mengalami kontraksi.“Pertanian mampu menjadi penyelamat perburukan resesi ekonomi nasional,” katanya.

Adapun untuk tahun 2022, ia mengatakan Kementan mulai merancang anggaran tahun depan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Syahrul menegaskan pihaknya tetap berkomitmen untuk fokus dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. “Kami akan tetap fokus untuk menyediakan pangan utama bagi 273 penduduk Indonesia,” ujarnya.

Kementan, kata dia, sudah menyiapkan sejumlah program, yaitu menjaga keberlanjutan peningkatan produksi komoditas prioritas, pengembangan diversifikasi pangan lokal, penguatan rantai pasok dan logistik pangan, penguatan food estate dan korporasi petani, serta pengembangan kebun pintar dan digitalisasi pertanian.

Dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan pertanian 2022, Kementan mendapatkan pagu indikatif Rpv14,51 triliun. Dengan anggaran tersebut, Kementan menetapkan target produksi komoditas utama, yaitu padi sebesar 55,20 juta ton, jagung 20,1 juta ton, kedelai 0,3 juta ton, bawang merah 1,64 juta ton, cabai 2,87 juta ton, gula 2,3 juta ton, dan daging sapi 0,44 juta ton.

Untuk mengamankan produksi pangan, Kementan akan melaksanakan mitigasi untuk mengantisipasi musim kering.

Salah satu langkah stratetgis yang dilakukan adalah mengiventarisasi daerah rawan kekeringan dan pengawalan, serta monitoring pertanaman pada daerah potensi kekeringan. Koordinasi dengan daerah pun diintensifkan untuk memitigasi dampak resiko.

Syahrul mengatakan, pihaknya sudah meminta jajarannya melakukan diseminasi informasi prakiraan iklim, serta mengadvokasi pemanfaatan sumber-sumber air seperti embung, bendungan, waduk, serta mendorong petani untuk memanfaatkan asuransi dan bantuan sarana produksi. “Kami akan melakukan percepatan tanam. Di mana ada air, kami akan melakukan akselerasi di sana,” ungkap Syahrul.

 

--

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA