Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Mengapa Kekayaan itu Penting di Tangan Muslim yang Saleh?

Rabu 09 Jun 2021 17:15 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Kekayaan yang hakiki menurut Islam adalah yang menunjang kesalehan. Ilustrasi kaya

Kekayaan yang hakiki menurut Islam adalah yang menunjang kesalehan. Ilustrasi kaya

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Kekayaan yang hakiki menurut Islam adalah yang menunjang kesalehan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Setiap orang tentu punya keinginan untuk menjadi kaya. Sebab dengan begitu, segala kebutuhan dan keinginan di dunia bisa terpenuhi. Dengan menjadi kaya, orang menjadi lebih mudah untuk mengulurkan tangannya. Membantu kaum fakir miskin maupun kelompok lain yang sedang mengalami kesusahan. 

Lantas, apa sebetulnya makna kaya dalam Islam? Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis, menyampaikan kaya adalah orang yang secara harta memiliki lebih dari kebutuhannya. Tetapi secara makna batin, kaya adalah orang yang mensyukuri dan bukan soal berapa banyak harta.

Baca Juga

"Secara makna batin, kaya itu merasa cukup dengan menjaga 'iffah (menahan diri) dan kehormatan diri. Dan kalau dari definisi kepemilikan, kaya adalah (harta) yang lebih dari kebutuhan," jelasnya kepada Republika.co.id.  

Kiai Cholil memaparkan, yang harus dikejar seorang Muslim ialah kekayaan hati dan kekayaan harta. Kaya hati tentu dengan banyak bersyukur dan qanaah, yang berarti menerima pemberian Allah SWT dan mengembalikan kepada-Nya dengan cara mensyukuri apa yang diterimanya.

"Harta yang dikumpulkan tentu dengan cara yang halal dan baik. Lalu harta yang dimiliki itu dizakatkan, diinfakkan, diwakafkan, disedekahkan. Itu yang baik bagi seorang Muslim," jelasnya. 

Karena itu, Kiai Cholil menyampaikan, Muslim tidak dilarang untuk menjadi kaya, asalkan dengan cara yang baik dalam memperolehnya serta mengelola kekayaan dengan baik. Kesukaan Islam terhadap Muslim yang kaya, menurutnya, tercermin melalui zakat. 

"Ajaran tentang zakat itu hanya bisa dilakukan oleh orang kaya, orang miskin tidak bisa berzakat. Jadi sebenarnya Islam lebih suka orang kaya, karena tangan yang memberi lebih baik daripada yang menerimanya," jelasnya.

Dalam konteks itulah, yang tidak diperbolehkan yaitu menjadi kaya dengan kesombongan. Sedangkan yang diperlukan adalah kaya dan zuhud, menjalani kehidupan dengan kesederhanaan. 

"Jadi sebenarnya lebih bagus orang kaya yang dermawan, hidupnya sederhana, itu yang diinginkan Rasulullah SAW, sehingga dia bisa berzakat, berinfak, bersedekah, untuk kebaikan," katanya. 

Untuk menjadi kaya sesuai ajaran Islam, Kiai Cholil mengungkapkan, tentu harus bekerja keras dengan sebaik-baiknya dan bersabar. Dengan demikian, bisa menjadi Muslim kaya yang senang berbagi sesuai tuntunan Islam. "Orang kaya itu pebisnis, maka kita diminta untuk berbisnis karena 90 persen jalan rezeki itu dari bisnis," imbuhnya.

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA