Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

WHO Prihatin Kesenjangan Vaksin Dunia

Selasa 08 Jun 2021 13:04 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Di depan bendera Amerika, perawat Lillian Wirpsza, kiri, memberikan vaksin COVID-19 kepada Shylee Stewart, perawat persalinan dan persalinan di Rumah Sakit Universitas George Washington, Senin, 14 Desember 2020 di Washington.

Di depan bendera Amerika, perawat Lillian Wirpsza, kiri, memberikan vaksin COVID-19 kepada Shylee Stewart, perawat persalinan dan persalinan di Rumah Sakit Universitas George Washington, Senin, 14 Desember 2020 di Washington.

Foto: AP/Jacquelyn Martin/AP Pool
Negara Barat mulai dilindungi oleh vaksin, sedangkan negara miskin terpapar virus.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyesalkan ketidakadilan dalam distribusi vaksin Covid-19. Hal ini telah membuat negara-negara Barat dilindungi oleh vaksin dan negara-negara miskin masih terpapar oleh virus Corona.

Tedros menyuarakan kekesalannya bahwa beberapa negara miskin tidak dapat mengimunisasi petugas kesehatan, lansia dan populasi lain yang paling rentan terhadap Covid-19. Dia menambahkan bahwa berbagi vaksin sangat penting untuk mengakhiri  fase akut pandemi Covid-19.

Baca Juga

"Kami melihat ada pandemi dua jalur, yaitu masih banyak negara  menghadapi situasi yang sangat berbahaya, sementara beberapa dari mereka dengan tingkat vaksinasi tertinggi mulai berbicara tentang mengakhiri pembatasan” kata Tedros, dilansir Aljazirah, Selasa (8/6).

Tedros mengatakan, enam bulan sejak vaksin virus Corona pertama diberikan, negara-negara berpenghasilan tinggi telah memberikan hampir 44 persen dari dosis vaksin dunia. Sementara negara berpenghasilan rendah hanya mengelola 0,4 persen.   "Hal yang paling membuat frustrasi tentang statistik ini adalah bahwa hal itu tidak berubah dalam beberapa bulan," kata Tedros.

Tedros menyerukan upaya global besar-besaran untuk memvaksinasi setidaknya 10 persen dari populasi semua negara pada September, dan setidaknya 30 persen pada akhir tahun. Untuk mencapai target itu membutuhkan tambahan 250 juta dosis pada bulan September, dan 100 juta dosis pada Juni dan Juli.

“Akhir pekan ini, para pemimpin G7 akan bertemu untuk pertemuan puncak tahunan mereka. Tujuh negara ini memiliki kekuatan untuk memenuhi target tersebut," ujar Tedros.

Tedros menyerukan kepada negara-negara G7 tidak hanya berkomitmen untuk berbagi dosis. Tetapi lebih khusus berkomitmen untuk membagikan vaksin pada Juni dan Juli.  “Saya juga meminta semua produsen untuk memberikan vaksin kepada Covax atau untuk berkomitmen 50 persen dari volume mereka untuk Covax tahun ini," kata Tedros.

Skema Covax didirikan untuk memastikan distribusi vaksin yang adil, terutama ke negara-negara berpenghasilan rendah. Covax telah mengirimkan lebih dari 80 juta dosis ke 129 wilayah. Namun distribusi tersebut masih belum mencapai target yaitu sekitar 200 juta dosis.

Agar vaksin memenuhi syarat untuk Covax, vaksin harus disetujui oleh WHO dan diberi status daftar penggunaan daruratnya. Sejauh ini, WHO telah memberikan lampu hijau untuk vaksin yang dibuat oleh AstraZeneca, Johnson & Johnson, Moderna, Pfizer-BioNTech, Sinopharm dan Sinovac.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA