Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Belum Ada Puskesmas di 160 Kecamatan Papua dan Papua Barat

Senin 07 Jun 2021 17:23 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Hiru Muhammad

Petugas membawa paket berisi vaksin COVID-19 buatan Sinovac untuk disimpan di gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (14/1/2021). Kota Sorong menerima sebanyak 2.600 vaksin untuk didistribusikan ke 10 fasilitas pelayanan kesehatan (Puskesmas) dan 6 Rumah Sakit di Kota Sorong yang direncanakan dipergunakan pada awal Februari mendatang bagi tenaga kesehatan.

Petugas membawa paket berisi vaksin COVID-19 buatan Sinovac untuk disimpan di gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (14/1/2021). Kota Sorong menerima sebanyak 2.600 vaksin untuk didistribusikan ke 10 fasilitas pelayanan kesehatan (Puskesmas) dan 6 Rumah Sakit di Kota Sorong yang direncanakan dipergunakan pada awal Februari mendatang bagi tenaga kesehatan.

Foto: ANTARA/OLHA MULALINDA
Kemenkes sudah mengambil kebijakan untuk mengakselerasi jumlah puskesmas di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan sebanyak 160 kecamatan di Papua dan Papua Barat belum memiliki layanan kesehatan primer atau puskesmas. Hal itu disampaikan Budi dalam rapat dengan panitia khusus (pansus) otonomi khusus (otsus) Papua, Senin (7/6).

"Rata-rata puskesmas dibandingkan dengan penduduk di Papua dan Papua Barat relatif lebih baik dari rata-rata nasional, memang kekurangannya karena daerahnya luas, dan penduduknya tersebar, dan juga adanya perkembangan wilayah pada saat itu, sehingga masih ada 160 kecamatan di Papua dan Papua Barat yang belum memiliki layanan primer atau puskesmas," kata Budi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/6).

Budi mengatakan Kementerian Kesehatan sendiri sudah mengambil kebijakan untuk mengakselerasi jumlah puskesmas di Indonesia. Ditargetkan dalam dua tahun mendatang seluruh kecamatan di Indonesia sudah memiliki puskesmas. 

"Memang yang paling banyak belum memiliki adalah yang ada di Papua, walaupun relatif untuk coverage jumlah puskesmas per 30 ribu penduduk, itu papua dan papua barat sudah lebih tinggi dari rata-rata nasional," ungkapnya.

Sementara itu, untuk akses layanan sekunder atau ruma sakit. Budi mengungkapkan dari segi rasio jumlah tidur yang ada di Papua dibanding jumlah penduduk relatif sama dengan nasional. Namun karena luasnya daerah Papua dan penduduknya yang tersebar ke beberapa lokasi, sehingga ada 15 kabupaten yang rasio tempat tidur per penduduknya masih di bawah rata-rata nasional.

Selain itu, Budi juga menjelaskan terkait jumlah dokter yang ada di Papua. Pada tahun 2001, ada 0,1 dokter untuk setiap 1.000 penduduk Papua. Di tahun 2020 sudah ada 0,3 dokter untuk setiap 1.000 penduduk Papua.

"Walaupun sudah naik dari angka 0,1 dokter per 1.000 penduduk, ini adalah masalah yang sudah puluhan tahun ada di sektor kesehatan," katanya. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA