Senin 07 Jun 2021 15:22 WIB

Soal Vaksin di DIY, Sri Sultan : Terlalu Cepat Memvaksin

Dari target tiga bulan tahap pertama, DIY selesai dalam waktu dua bulan

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Hiru Muhammad
Warga lansia melakukan pemeriksaan kesehatan di Sentra Vaksinasi COVID-19, JEC, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (30/4/2021). Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berkolaborasi dengan Traveloka membuka Sentra Vaksinasi COVID-19 tahap pertama untuk masyarakat yang belum mendapatkan vaksin guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
Foto: ANTARA/Hendra Nurdiyansyah
Warga lansia melakukan pemeriksaan kesehatan di Sentra Vaksinasi COVID-19, JEC, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (30/4/2021). Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berkolaborasi dengan Traveloka membuka Sentra Vaksinasi COVID-19 tahap pertama untuk masyarakat yang belum mendapatkan vaksin guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut, vaksinasi Covid-19 untuk penyandang disabilitas ada kendala di jatah vaksin yang didistribusikan pemerintah pusat. Ia mengklaim bahwa pelaksanaan vaksinasi di DIY terbilang cepat. Sehingga, menyebabkan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY harus menunggu lama untuk pengiriman vaksin di tahap berikutnya dari pemerintah pusat. Seperti pelaksanaan vaksinasi di tahap pertama yang menyasar tenaga kesehatan (nakes).

Dari target tiga bulan pelaksanaan vaksinasi tahap pertama, kata Sultan, DIY selesai hanya dalam waktu dua bulan. Dengan begitu, untuk pelaksanaan vaksinasi di tahap kedua, DIY harus menunggu satu bulan distribusi vaksin di periode selanjutnya. "Persoalannya kita terlalu cepat memvaksin. Sehingga dengan kiriman vaksin berikutnya sesuai dengan jadwal itu jadi kelihatannya jauh karena kita kecepatan," kata Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Senin (7/6).

Pelaksanaan vaksinasi di DIY sendiri masih di tahap kedua dan saat ini masih terus berjalan. Sultan menuturkan, untuk pengadaan vaksin periode selanjutnya dari pemerintah pusat masih berproses. "Kemarin bahan bakunya baru datang, kan nunggu dari Biofarma, untuk proses vaksinnya masih harus nunggu," kata Sultan.

Meskipun DIY belum memulai (kick off) vaksinasi untuk penyandang disabilitas, namun sudah ada beberapa yang sudah divaksinasi. Di DIY sendiri, Sultan menyebut, penyandang disabilitas mencapai 29 ribu jiwa.

"Vaksinasi (penyandang disabilitas) kita juga sudah ada sebagian, tapi masalahnya ada jatah yang harus dibagi dengan provinsi-provinsi lain. Yang penting itu data sudah masuk, hanya sekarang vaksin itu jumlahnya berapa untuk komponen-komponen yang lain," ujarnya.

Sementara itu, Staf Khusus Presiden bidang sosial Angkie Yudistia mengatakan, percepatan vaksinasi khusus untuk penyandang disabilitas ini terus dilakukan. Bahkan, kick off vaksinasi bagi penyandang disabilitas juga sudah dilakukan pada 2 Juni 2021. Setidaknya, lebih dari 500 ribu penyandang disabilitas yang sudah divaksin saat kick off. Melalui kick off ini, diharapkan pemerintah daerah mempercepat pelaksanaan vaksinasi untuk penyandang disabilitas.

Secara nasional, kata Angkie, jumlah penyandang disabilitas mencapai lebih dari 38 juta jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2019. Sedangkan, ia menyebut, jumlah penyandang disabilitas di DIY mencapai lebih dari 800 ribu orang. "Berdasarkan SE dari Kemenkes, SE diberikan pada  kepala daerah dan juga sentra-sentra vaksinasi untuk segera dipercepat. Karena kita tahu disabilitas adalah kelompok yang sangat rentan terpapar Covid-19," kata Angkie.

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement