Friday, 13 Zulhijjah 1442 / 23 July 2021

Friday, 13 Zulhijjah 1442 / 23 July 2021

Studi: Vitamin D tak Bisa Cegah Komplikasi Pasien Covid-19

Jumat 04 Jun 2021 23:04 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Nora Azizah

Vitamin D dosis tinggi tidak berpengaruh terhadap perjalanan penyakit Covid-19.

Vitamin D dosis tinggi tidak berpengaruh terhadap perjalanan penyakit Covid-19.

Foto: Pixabay
Vitamin D dosis tinggi tidak berpengaruh terhadap perjalanan penyakit Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada banyak penelitian tentang peran vitamin D dalam mencegah infeksi SARS-CoV-2 dan komplikasi Covid-19. Namun, studi-studi ini menarik kesimpulan yang bertentangan.

Saat ini, sebuah studi dari para peneliti di Brasil memberikan jawaban yang lebih kuat untuk setidaknya menjawab pertanyaan, 'Dapatkah vitamin D membantu mencegah komplikasi Covid-19 pada pasien yang dirawat di rumah sakit?'. Menurut hasil, jawabannya tidak. Studi tersebut menemukan vitamin D dosis tinggi yang diberikan kepada pasien Covid-19 sedang atau berat tidak mempengaruhi perjalanan penyakit.

Baca Juga

“Studi atau uji coba in vitro dengan hewan sebelumnya menunjukkan, dalam situasi tertentu vitamin D dan metabolitnya bisa memiliki efek anti-inflamasi dan antimikroba, serta memodulasi respons imun,” jelas peneliti utama studi tersebut, Rosa Pereira.

“Kami memutuskan untuk menyelidiki apakah dosis tinggi vitamin D bisa memiliki efek perlindungan dalam konteks infeksi virus akut, mengurangi peradangan atau viral load,” lanjut Pereira, dilansir dari medicalnewstoday, Jumat (4/6).

“Berdasarkan hasil penelitian, sejauh ini, kami bisa mengatakan tidak ada indikasi untuk memberikan vitamin D kepada pasien yang datang ke rumah sakit dengan Covid-19 parah,” jelas Pereira.

Vitamin D juga tampaknya tidak berpengaruh pada kematian. Pereira memperingatkan bahwa diperlukan studi yang lebih besar dengan lebih banyak peserta, sebelum peneliti dapat menarik kesimpulan akhir. Studi tersebut secara meyakinkan mengesampingkan vitamin D sebagai ‘peluru ajaib’ untuk mengobati Covid-19.

"Tapi itu bukan berarti penggunaan vitamin D secara terus-menerus tidak memiliki efek menguntungkan," kata rekan penulis peneliti, Bruno Gualano.

Setelah menyarankan bahwa satu dosis tinggi vitamin D bukanlah solusi untuk Covid-19 yang parah, Pereira juga memimpin studi baru untuk menentukan  kekurangan vitamin D berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk mengatasi SARS-CoV-2. Pereira juga mencari cara untuk menetapkan jumlah vitamin D yang harus dimiliki seseorang dalam aliran darah mereka, untuk meningkatkan kesehatan yang baik. Ambang batas ini akan bervariasi tergantung pada karakteristik individu.

Orang yang lebih muda dan umumnya sehat, harus memiliki setidaknya 20 nanogram per mililiter darah (ng/ml). Sedangkan untuk orang tua dan misalnya penderita osteoporosis, minimal 30 ng/ml.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA