Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Pakar Paparkan Soal Dampak dari Long Covid

Jumat 04 Jun 2021 07:50 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

Urutan gejala <em>long</em> Covid-19 (ilustrasi).

Urutan gejala long Covid-19 (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com.
Gejala Long Covid dimulai dari pelemahan fisik secara umum.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Hasil penelitian dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengungkapkan, setelah empat pekan sejak mulai merasakan gejala Covid-19 sampai dinyatakan negatif, masih timbul gejala sisa. Ini disebut Long Covid. Pasien Covid-19 perlu mewaspadai hal ini, meski gejala Long Covid bisa diatasi secara medis. Kombespol Dr. Yahya Sp.P & dokter spesialis paru Kabag Pembinaan Fungsi RS. Bhayangkara

R. Said Sukanto, memaparkan , 53,7% pasien merasakan gejala Long Covid selama satu bulan, 43,6% selama 1-6 bulan, dan 2,7% lebih dari 6 bulan. 

“Gejala Long Covid dimulai dari pelemahan fisik secara umum, sesak napas, nyeri sendi, nyeri otot, batuk, diare, kehilangan penciuman, dan pengecapan,” kata dia dalam Dialog Produktif bertema Long Covid, Kenali dan Waspadai yang adakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Kamis (3/6).

“Kemudian secara demografi, pasien laki-laki juga lebih besar peluangnya terkena efek Long Covid. Salah satu alasannya karena gaya hidup merokok. Biasanya juga pasien Covid-19 yang bergejala berat atau mungkin yang berhasil sembuh setelah dibantu ventilator memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menderita Long Covid ini,” kata dia.

Yahya menekankan, salah satu faktor penting dari gejala Long Covid dipicu juga oleh kondisi psikologis pasien. “Memang ada kelemahan seseorang gampang cemas, gampang depresi, ini juga faktor yang membuat seseorang Long Covid,” kata dia. 

Pada saat perawatan maupun isolasi mandiri, apabila pasien merasakan gejala-gejala Long Covid setelah dinyatakan sembuh, diharapkan pasien terus berkonsultasi kepada dokter.

Ahli Virologi Universitas Udayana Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika menjelaskan, lebih lanjut, mengapa ini bisa terjadi dalam tubuh pasien? “Semua jaringan tubuh manusia bisa terinfeksi virus Covid-19 ini. Jadi Long Covid ini membuat pasien berisiko kerusakan jaringan tubuh dalam jangka panjang hingga menyebabkan gangguan respon imun dan gangguan saraf. Karena itu mohon jangan lagi menganggap remeh penyakit Covid-19 ini,” pesannya.

Cahyandaru Kuncorojati penyintas Covid-19 menceritakan bahwa selain mengganggu kesehatan fisik, penyakit uang disebabkan virus corona ini ini benar-benar menyerang secara psikologis seperti yang diterangkan dr. Yahya.

“Waktu saya dirawat bersama istri dan dua anak saya yang masih kecil, saya memikirkan anak saya. Saya bertekad untuk segera sembuh agar anak saya yang masih usia dua tahun dan satu lagi tujuh bulan bisa segera saya pantau juga kesembuhannya,” tegasnya.

Setelah dinyatakan negatif, gejala Long Covid berupa kehilangan penciuman dan pengecapan juga dialami Cahyandaru selama kurang lebih satu bulan. “Berangsur-angsur mulai kembali tapi sampai sekarang indra penciuman saya tidak setajam dulu lagi,” kata dia.

Untuk pasien yang kehilangan kemampuan penciuman dan pengecapan memang perlu

dibangkitkan lagi sensitivitasnya seperti mencium bau-bau yang sangat menyengat. Misalnya, minyak kayu putih dan parfum yang sangat harum.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA