Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Mualaf Delfano, Dulu Pembenci Adzan Kini Rindu Makkah

Jumat 04 Jun 2021 05:59 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Delfano merasakan kenikmatan saat sholat di Masjidil Haram.

Delfano merasakan kenikmatan saat sholat di Masjidil Haram.

Foto: Dok Istimewa
Delfano merasakan kenikmatan saat sholat di Masjidil Haram.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Delfano menceritakan kisah mualafnya di channel Youtube milik sahabatnya @cahhijrah. Fano mulai dikenal sebagai youtuber asal Semarang berduet dengan sahabatnya Iyok. 

Sebelum menjadi Youtuber, Fano, begitu akrab disapa, menjalankan bisnis travel umroh bersama kakaknya. Namun, bisnisnya terhenti karena bermasalah terkait visa.  

Namun, melalui bisnis inilah Fano mendapatkan hidayah. Sejak 2015, setelah mengelola satu cabang travel di Semarang, Fano memiliki ketertarikan untuk mempelajari Islam. 

Dia melihat jamaah umroh dengan penasaran. Karena bagi dia, mereka aneh dengan uang banyak rela mengantre dan berkali-kali berangkat hanya untuk sholat di Tanah Suci dan ritual yang mirip.  

Fano bertanya-tanya mengapa mereka tidak memilih ke tempat lain yang bisa jadi tempatnya lebih indah dan lebih menarik. Meski demikian, dia selalu bersyukur dan berharap perjalanan umroh  jamaah yang didampinginya lancar sejak berangkat hingga kembali ke Tanah Air. 

Setelah memperhatikan jamaah kemudian sering ikut manasik, ketertarikan tersebut belum sampai membuatnya yakin untuk bersyahadat. Selama empat tahun, Fano masih mempelajari Islam. 

Pernah satu ketika saat berkumpul bersama teman-temannya yang Muslim, adzan telah berkumandang. Namun, mereka tak beranjak sholat, hanya satu temannya yang memang sangat taat yang langsung mengambil air wudhu. 

"Saya ingatkan teman yang lain untuk sholat. Namun, mereka pura-pura tak mendengar, kemudian saya ingatkan kembali kalau sudah diingatkan pura-pura tidak mendengar, maka dosanya besar. Mereka kemudian khawatir dan langsung beranjak sholat," kata pria kelahiran Jawa Tengah, 6 Agustus 1994 ini.  

Fano kemudian diajak berwudhu, meskipun dia belum bersyahadat. Teman-temannya pun berharap dia memeluk Islam.  

Setelah kejadian itu, waktu pun berlalu sampai satu malam pada Oktober 2019 hatinya mulai resah. Ada rasa kerinduan akan sosok Tuhan dalam hidupnya yang terasa kosong.  

Sebelum mualaf, Fano mengaku tidak meyakini agama apa pun juga tidak menjalankan ibadah. Begitu juga selama dia mempelajari Islam sejak 2015 tersebut.

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA