Rabu 02 Jun 2021 09:23 WIB

2020, Medco Energy Merugi Rp 2,7 Triliun

Pada tahun lalu permintaan gas dan harga minyak masih belum membaik.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Medco Energy
Medco Energy

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Medco Energy pada tahun buku 2020 masih harus menelan kerugian. Perusahaan yang bergerak di bidang oil and gas ini merugi 189 juta dolar AS atau setara Rp 2,702 triliun (kurs Rp 14.300 per dolar AS) pada tahun lalu.

CEO Medco Energy Internasional Roberto Lorato menjelaskan masih memburuknya kondisi keuangan perusahaan pada tahun lalu disebabkan oleh pandemi. Meski harga komoditas mengalami pertumbuhan, namun secara permintaan belum membaik karena adanya pandemi.

Baca Juga

“Rendahnya permintaan energi akibat pandemi telah berdampak signifikan terhadap kinerja Perseroan tahun lalu. Dalam menyikapi keadaan luar biasa ini, kami segera melakukan adaptasi untuk melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja, mendukung masyarakat di sekitar operasi dan menjaga likuiditas Perusahaan," ujar Roberto dalam keterangan tertulisnya, Rabu (2/6).

Roberto juga menjelaskan selama 2020 perusahaan mencatatkan EBITDA 502 juta dolar AS atau turun 20 persen dibandingkan 2019. Hal ini dikarenakan permintaan gas dan harga minyak yang masih belum membaik.

"Harga komoditas telah membaik pada tahun 2021, namun pandemi belum usai sepenuhnya dan volume gas di beberapa pasar utama Perseroan masih rendah. Kami akan tetap disiplin dan menjaga fleksibilitas untuk memanfaatkan pemulihan yang diharapkan.” tambah Roberto.

Tahun lalu perusahaan menginvestasikan 144 juta dolar AS untuk menyelesaikan proyek Meliwis di Jawa Timur dan pengeboran empat sumur eksplorasi di Natuna. Sedangkan untuk investasi di sektor kelistrikan perusahaan mengeluarkan 63 juta dolar AS untuk pengembangan CCPP Riau dan pengeboran eksplorasi panas bumi di Ijen.

Presiden Direkur Medco Energy Hilmy Panigoro menjelaskan pada tahun lalu perusahaan memproduksi migas sebesar 100 mboepd. "Dampak dari permintaan gas yang rendah. Permintaan gas berangsur pulih pada tahun 2021 namun masih di bawah normal saat sebelum pandemi," ujar Hilmy.

Sedangkan dari sisi ketenagalistrikan, anak usaha Medco Energy mampu membukukan penjualan listrik sebesar 2.639 GWh dan 31 persennya berasal dari pembangkit EBT. Sedangkan untuk pengembangan panas bumi, sumur eksplorasi di Ijen, Jawa Timur telah menemukan reservoir uap dan pekerjaan sedang dilakukan untuk membuktikan kelayakan komersial fasilitas geotermal yang baru.

"Dengan selesainya aliansi Kansai Electric, keberhasilan eksplorasi, dan AMNT kembali menghasilkan keuntungan, sangat membanggakan melihat MedcoEnergi melewati masa yang sulit ini dan bangkit menjadi Perusahaan yang lebih kuat. Kami juga mulai melihat manfaat dari upaya kami mengendalikan emisi dan kami akan memperbarui sasaran ESG dan Transisi Energi jangka menengah kami," ujar Hilmy.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement