Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Naftali Bennett Bidik Kursi Perdana Menteri Israel

Senin 31 May 2021 18:37 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih

Pemimpin Partai Yemina, Naftali Bennett.

Pemimpin Partai Yemina, Naftali Bennett.

Foto: EPA
Bennett adalah mantan menteri pertahanan di pemerintahan Netanyahu

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Pemimpin partai Yamina, Naftali Bennett, tengah membidik posisi perdana menteri Israel yang kini dijabat Benjamin Netanyahu. Dia mengeklaim bakal memperoleh dukungan dari partai-partai sayap kiri.

“(Partai) kiri jauh dari kompromi yang mudah di sini, ketika (dukungan) itu diberikan kepada saya, peran perdana menteri,” kata Bennett pada Ahad (30/5) malam dikutip dari laman Times of Israel.

Baca Juga

Bennett adalah mantan menteri pertahanan di pemerintahan Netanyahu. Pria berusia 49 tahun itu telah memberikan dukungan kepada pemilih sayap kanan sepanjang kariernya. Ia menyerukan Israel mencaplok sebagian wilayah Tepi Barat yang diduduki dan mengambil tindakan keras terhadap Iran.

Singkatnya, Bennett telah berbagi ideologi dengan Netanyahu dan telah bertugas di beberapa pemerintahan pimpinan partai Likud. Netanyahu adalah pemimpin Likud. Namun dalam beberapa tahun terakhir, keduanya memiliki sikap berseberangan.

Sebagai buntut dari pertempuran terbaru selama 11 hari antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, Bennett setuju bergabung dengan Yair Lapid yang sentris. Mereka sepakat berkoalisi untuk mendepak Netanyahu dari posisi perdana menteri.

Lapid, yang memimpin partai Yesh Atid, telah menawarkan Bennett menjalani masa jabatan pertama dalam pemerintahan bergilir. Dia memiliki waktu hingga Rabu (2/6) untuk menghimpun 61 kursi di parlemen Israel (Knesset).

Dalam pemilu 23 Maret lalu, Netanyahu memperoleh dukungan 52 dari 120 anggota Knesset. Lapid mengantongi 45 dukungan, sementara Bennett mendapatkan tujuh dukungan. Untuk membentuk kabinet atau pemerintahan, sebuah partai di Israel minimal harus memiliki 61 kursi mayoritas di Knesset.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA