Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

PM Pakistan: Perdamaian dengan India akan Khianati Kashmir

Selasa 01 Jun 2021 02:04 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan

Foto: AP Photo/Bebeto Matthews
PM Pakistan mengesampingkan kemungkinan normalisasi hubungan dengan India

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Perdana Menteri Pakistan Imran Khan telah mengesampingkan kemungkinan normalisasi hubungan dengan India. Khan mengatakan, langkah seperti itu akan menjadi pengkhianatan terhadap Kashmir.

"Saya mencoba, sejak hari pertama setelah berkuasa, bahwa kami memiliki hubungan dengan India dan masalah Kashmir diselesaikan melalui dialog," ujar Khan, dilansir Aljazirah, Senin (31/5).

Baca Juga

Khan menegaskan bahwa membangun kembali hubungan dengan India akan mengkhianati perjuangan warga Kashmir. Menurut Khan, negosiasi dapat dilanjutkan jika India membatalkan pencabutan status semi-otonom dari wilayah Kashmir yang dikelola India.

"Tidak ada keraguan bahwa perdagangan kita akan meningkat tetapi semua darah mereka akan terbuang percuma, jadi ini tidak mungkin terjadi. Ini tidak mungkin terjadi bahwa perdagangan kita meningkat dengan (mengorbankan) darah mereka," kata Khan.

Pemerintah India yang dipimpin Narendra Modi mencabut Pasal 370 dan ketentuan terkait lainnya dari Konstitusinya pada 5 Agustus 2019. Selain itu, India juga membagi dua wilayah yang dikelola pemerintah federal. India kemudian memberlakukan pembatasan pergerakan dan memaksakan pemadaman komunikasi. Terkait hal tersebut, Pakistan menangguhkan hubungan perdagangan dan menurunkan hubungan diplomatik dengan New Delhi.

India dan Pakistan telah berperang tiga kali sejak kemerdekaan mereka dari kekuasaan Inggris pada 1947. India dan Pakistan mengklaim Kashmir secara penuh, tetapi mengatur bagian-bagiannya secara terpisah.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA