Sabtu 29 May 2021 01:53 WIB

Trump Klaim Banyak Orang Mati Ikut Memilih di Pilpres 2020

Dalam pemilihan itu Trump kalah dari Joe Biden dari Partai Demokrat

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih
Mantan Presiden AS, Donald Trump
Foto: AP
Mantan Presiden AS, Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim 'banyak sekali' orang yang sudah meninggal dunia ikut memilih dalam pemilihan presiden 2020. Dalam pemilihan itu Trump yang diusung Partai Republik kalah dari Joe Biden dari Partai Demokrat.

"Breaking News! Jumlah orang yang sudah meninggal 'memilih' di pemilihan presiden 2020 sangat banyak, jauh lebih banyak dari yang orang tahu atau lihat sebelumnya," kata Trump dalam pernyataan yang dirilis di situsnya seperti dikutip Newsweek, Jumat (28/5).

Baca Juga

"Beberapa 'orang mati' ini bahkan meminta surat suara. Ini hanya satu dari berbagai aspek kecurangan dalam pemilihan 2020, sekarang masyarakat mulai memahaminya," tambah Trump.

Mantan presiden dan pendukung-pendukungnya mengatakan banyak orang yang sudah meninggal dunia memilih dalam pemilihan bulan November tahun lalu. Di sejumlah kasus, ada beberapa orang yang meninggal dunia setelah memberikan suaranya melalui surat tapi sebelum penghitungan dilakukan.

Pada FactCheck.org, pakar politik Charles Stewart III mengatakan klaim-klaim ini biasanya diambil dari isu-isu daftar pemilih. Seperti kemiripan nama pemilik hak suara dengan orang yang sudah meninggal.

Tidak ada klaim Trump mengenai pemilihan 2020 yang sudah terbukti. Tuduhan-tuduhan ini biasanya diarahkan ke negara-negara bagian yang tak berhasil Trump menangkan seperti Georgia, Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin.

Trump mencoba mengubah hasil pemilihan umum dengan berbicara dengan Sekretaris Negara Bagian Georgia Brad Raffensperger pada awal Januari lalu. Trump mengeklaim ada 5.000 orang yang sudah meninggal dunia memilih di negara bagian itu. Petugas pemilihan suara Georgia membantah klaim tersebut.

Tidak lama setelah pemungutan suara digelar, ketua Students for Trump Ryan Fournier mengatakan di media sosial ia memiliki bukti kecurangan pemilu. Ia mengatakan ada surat suara atas nama 'William Bradley yang berusia 118 tahun'.

Beberapa hari kemudian putra Bradley yang juga bernama William Bradley tapi memiliki nama tengah yang berbeda mengatakan pada PolitiFact ia yang memberikan hak suara. Sementara ayahnya memang sudah meninggal dunia dan tidak memiliki surat suara.

Hal ini dikonfirmasi petugas pemilihan Negara Bagian Michigan. Menteri Negara Bagian Michigan dalam situsnya mengatakan petugas pemilihan 'tidak menemukan satu kasus pun di mana surat suara dicoblos oleh anggota keluarga orang yang sudah meninggal dunia'.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement