Kamis 27 May 2021 06:46 WIB

Studi: Protein Ganggang Bisa 'Sembuhkan' Kebutaan

Sebagian penglihatan pasien buta total bisa kembali dengan terapi protein ganggang.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah
Sebagian penglihatan pasien buta total bisa kembali dengan terapi protein ganggang (Foto: ilustrasi)
Foto: Readers Digest
Sebagian penglihatan pasien buta total bisa kembali dengan terapi protein ganggang (Foto: ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang pasien dengan kebutaan total menjalani terapi bernama optogenetik yang menggunakan protein ganggang. Terapi ini berhasil mengembalikan sebagian penglihatan pasien laki-laki tersebut.

Pasien tersebut pertama kali menyadari bahwa terapi optogenetik bekerja dengan baik untuknya ketika dia dapat melihat garis putih di penyebrangan pejalan kaki. Kini, sang pasien sudah mampu menjangkau dan menghitung objek yang diletakkan di atas meja menurut laporan dalam Nature Medicine.

Baca Juga

Pasien yang merupakan warga Brittany, Prancis, ini menjalani perawatan di Paris. Dia terdiagnosis dengan retinitis pigmentosa 40 tahun lalu. Kondisi tersebut menyebabkan kematian sel-sel yang mengenali cahaya di permukaan retina.

Kondisi retinitis pigmentosa diperkirakan mengenai lebih dari dua juta orang di dunia. Kebutaan total akibat retinitis pigmentosa merupakan hal yang cukup langka. Akan tetapi, pasien laki-laki ini tak dapat melihat sama sekali selama dua dekade ke belakang.

Sang pasien lalu menjalani terapi optogenetik. Terapi ini terbilang sebagai bidang yang baru di dunia kedokteran, tetapi sudah menjadi hal yang pokok dalam ilmu saraf fundamental.

Terapi ini digunakan oleh para peneliti untuk mengembalikan kemampuan salah satu mata sang pasien untuk mendeteksi cahaya. Teknik dalam terapi ini menggunakan protein yang diproduksi oleh ganggang bernama channelrhodopsins. Protein ini digunakan untuk mengontrol sel-sel yang ada di bagian belakang mata pasien.

Langkah awal dalam terapi ini adalah terapi gen. Instruksi genetik untuk membuat rhodopsins diambil dari ganggang. Setelah itu, instruksi genetik tersebut diberikan kepada sel-sel yang berada di lapisan dalam retina yang masih hidup pada sang pasien.

Dengan cara ini, ketika sel-sel tersebut terpapar oleh cahaya, mereka akan mengirimkan sinyal listrik ke otak. Akan tetapi, mereka hanya bisa merespon cahaya amber atau kuning.

Oleh karena itu, pasien perlu menggunakan goggle dengan video kamera di bagian depannya dan proyektor di bagian belakangnya. Hal ini memungkinkan alat tersebut untuk menangkap apa yang terjadi di dunia nyata dan memproyeksikannya ke dalam panjang gelombang yang tepat menunju ke belakang mata.

Dibutuhkan waktu hingga bulanan agar rhodopsins terbentuk mencapai kadar yang cukup tinggi di dalam mata. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan juga bagi otak untuk mempelajari "bahasa baru" ini agar bisa membuat sang pasien bisa melihat kembali.

"Pasien ini awalnya sedikit frustrasi karena dibutuhkan waktu yang panjang antara injeksi dan saat dia mulai bisa melihat sesuatu," pungkas peneliti Dr Jose-Alain Sahel dari Institute of Vision di Paris, seperti dilansir BBC, Kamis (27/5).

Setelah itu, sang pasien mulai melaporkan bahwa dia bisa melihat garis putih di penyebrangan pejalan kaki. Sang pasien melaporkan kemajuan tersebut dengan sangat antusias.

"Kami semua juga sangat gembira," jelas Dr Sahel.

Sang pasien saat ini memang tak memiliki penglihatan yang sempurna. Akan tetapi mengalami perubahan dari tak bisa melihat menjadi bisa melihat secara terbatas dapat membawa perubahan besar dalam hidup pasien.

"Temuan ini memberikan konsep bukti bahwa penggunaan terapi optogentik untuk mengembalikan sebagian penglihatan merupakan hal yang mungkin dilakukan," ujar Profesr Botond Roska dari University of Basel.

Ada beberapa pendekatan lain yang dapat digunakan untuk mengembalikan penglihatan. Salah satunya adalah memperbaiki kerusakan genetik yang menyebabkan penyakit. Akan tetapi retinitis pigmentosa dapat disebabkan oleh mutasi pada lebih dari 71 gen berbeda, sehingga metode tersebut cukup menantang untuk dilakukan.

Cara lainnya adalah dengan menghubungkan sebuah kamera dengan elektroda yang ditanamkan di belakang mata. Optogenetik sendiri saat ini juga diteliti untuk digunakan dalam kasus penyakit Parkinson. Penelitian lain pun sedang dilakukan untuk mengetahui apakah terapi optogenetik dapat membantu meningkatkan pemulihan dari strok.

"Teknologi baru yang menggairahkan ini mungkin dapat membantu orang-orang yang penglihatannya sangat terganggu," ungkap profesor studi retina di University College London di Inggris James Baindrige.

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement