Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Pemprov Sayangkan Berita Warga Bali Meninggal Usai Divaksin

Rabu 26 May 2021 21:50 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada penyandang tuna daksa di Rumah Bisabillitas, Denpasar, Bali, Ahad (9/5/2021). Pemerintah Kota Denpasar menggelar vaksinasi bagi penyandang disabilitas yang diikuti 384 orang untuk pencegahan penyebaran COVID-19 sekaligus percepatan Bali bebas COVID-19.

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada penyandang tuna daksa di Rumah Bisabillitas, Denpasar, Bali, Ahad (9/5/2021). Pemerintah Kota Denpasar menggelar vaksinasi bagi penyandang disabilitas yang diikuti 384 orang untuk pencegahan penyebaran COVID-19 sekaligus percepatan Bali bebas COVID-19.

Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo
Abdullah Malanua (44) diberitakan meninggal usai mendapatkan vaksinasi AstraZaneca.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali Gede Pramana menanggapi pemberitaan di sejumlah media yang menyampaikan Abdullah Malanua (44) seorang tukang jahit di Kota Denpasar yang meninggal dunia usai divaksin Covid-19. Malanua disebut telah sakit selama sepekan terakhir.

"Sangat disayangkan banyak sekali pemberitaan yang mengatakan bahwa ada korban meninggal akibat vaksin, padahal belum ada penjelasan resmi dari pihak yang berkompeten tentang itu namun sudah diberitakan orang tersebut meninggal karena vaksin," kata Gede Pramana dalam keterangan persnya di Denpasar, Rabu (26/5).

Baca Juga

Oleh karena itu, dia meminta agar awak media lebih cermat dalam pemberitaan dan membantu mengedukasi masyarakat melalui berita yang berasal dari sumber dan data yang dapat dipercaya. Pemerintah, beserta pemangku kepentingan terkait, lanjut Pramana, terus berupaya keras mengupayakan ketersediaan vaksin yang aman di tengah masyarakat sebagai salah satu cara untuk keluar dari pandemi disamping penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Menurut dia, dengan adanya pemberitaan negatif terkait vaksin tanpa didukung dengan data serta dari sumber yang akurat dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. Pejabat kelahiran Wangaya Kelod, Denpasar, ini juga meminta masyarakat agar selalu mencari informasi, baik itu terkait Covid-19, maupun vaksinasi dari situs-situs resmi yang disediakan oleh pemerintah sehingga informasi yang didapatkan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya juga sangat menyayangkan beredarnya pemberitaan yang mengatakan ada korban meninggal akibat vaksin Covid-19 tanpa berdasarkan data ataupun informasi yang akurat. Kadinkes pun merilis hasil autopsi verbal kronologis dari Bapak Abdullah Malanua (44) yang diberitakan meninggal setelah mendapatkan vaksinasi AstraZeneca.

Dia menyampaikan, korban yang berprofesi sebagai tukang jahit ini sudah sakit kurang lebih dari seminggu yang lalu dan hanya istirahat di kamar, jarang keluar apalagi bekerja. Sakit yang dikeluhkan adalah sakit kepala yang terus-menerus bahkan terkadang almarhum sampai muntah-muntah, dan berkeringat dingin.

"Almarhum juga dikatakan memang memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol," katanya.

Pada saat almarhum ikut vaksin, semua proses skrining dan lain sebagainya sudah dilakukan dan kondisi saat itu memungkinkan untuk mendapatkan vaksin. Kemudian dua hari setelah vaksin Abdullah ditemukan meninggal.

"Kita tidak bisa menyimpulkan yang bersangkutan meninggal karena vaksin. Setelah vaksin ada observasi dan baik-baik saja. Jadi jangan sedikit-sedikit ada orang meninggal dikaitkan dengan Covid-19 atau ada yang meninggal setelah beberapa harinya mendapatkan vaksin dikaitkan meninggal karena vaksin," ucapnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA