Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Mengapa Populasi AS dan Yahudi Semakin Dukung Palestina

Rabu 26 May 2021 14:08 WIB

Red: Elba Damhuri

Sejumlah warga Yahudi ortodoks turun ke jalan menggelar aksi dukungan untuk rakyat Palestina dari agresi Israel, di New York, Sabtu (15/5) waktu setempat.

Sejumlah warga Yahudi ortodoks turun ke jalan menggelar aksi dukungan untuk rakyat Palestina dari agresi Israel, di New York, Sabtu (15/5) waktu setempat.

Foto: AP/Kevin Hagen
Kemerdekaan Palestina dari pendudukan Israel tinggal masalah waktu.

Oleh : Denny JA, Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik

REPUBLIKA.CO.ID, --- Kemerdekaan Palestina hanya soal waktu. Pada waktunya, kemerdekaan Palestina itu bahkan akan ikut didorong oleh Pemerintah Amerika Serikat dan mayoritas populasi Yahudi internasional.

Itulah kesimpulan saya selepas membaca data mutakhir. 

Gallup Poll secara berkala membuat survei pada populasi masyarakat Amerika Serikat. Ikut ditanyakan, seberapa nyaman mereka dengan Israel versus Palestina dalam konflik Israel- Palestina.

Walau masih lebih banyak yang pro-Israel, tapi dukungan (favorability) pada Palestina terus menaik dari waktu ke waktu. (1)

Pada 2021, dukungan pada Palestina (Palestine Authority Favorably) meningkat di angka 30 persen. Sebelumnya, hanya 23 persen pada 2020. Dan, hanya 21 persen pada 2019 dan 2018.

Sebaliknya, dukungan pada Israel (Israel Authority Favorably) menurun 58 persen pada 2021. Sebelumnya, 60 persen pada 2020. Dan, 64 persen pada 2018.

Di sisi lain, semakin banyak terbentuk komunitas Yahudi internasional. Mereka yang berdarah Yahudi, beragama Yahudi, mendukung kemerdekaan Palestina.

Bahkan, komunitas Yahudi berkampanye memobilisasi dukungan mereka. Antara lain, Jewish For Peace dan If Not Now Movement di Amerika Serikat.

Sedangkan, di United Kingdom, terbentuk pula komunitas Yahudi untuk Palestina dengan nama Na’amod Movement. (2)

Menarik untuk memahami, mengapa dukungan kepada Palestina menaik, bahkan di wilayah dan komunitas yang dulu menjadi musuh utama Palestina.

Tiga alasan penyebab

Pertama, semakin berpengaruhnya komunitas Blacklives Matters di Amerika Serikat.

Komunitas ini yang tempo hari menyatukan penduduk kulit hitam dan simpatisan kulit putih. Mereka memprotes ketidakadilan, rasialisme, kekerasan yang dilakukan aparat keamanan dan politisi atas kulit hitam.

Gerakan ini terbentuk sejak 2013 di Amerika Serikat. Ini timbul sebagai solidaritas atas ditembaknya remaja kulit hitam, Trayvon Martin, oleh polisi.

Martin baru berusia 17 tahun. Diyakini ia tak bersalah. Ia ditembak dikira kriminal. Itu semata karena ia kulit hitam.

Pengadilan memutuskan sang polisi bersalah

Gerakan Black Live Matters semakin membesar ketika mereka membela kulit hitam George Floyd pada 2020. Video tentang George Flyod meluas. Viral.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA