Senin 24 May 2021 11:42 WIB

Pakistan Minta Kerajaan Saudi Akui Vaksin China

Banyak warga Pakistan yang telah disuntik vaksin Covid buatan China.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Teguh Firmansyah
Seorang dokter menerima vaksin virus Corona Sinopharm dari seorang perawat di pusat vaksinasi, di Karachi, Pakistan, Rabu, 3 Februari 2021. Otoritas Pakistan mulai memvaksinasi petugas kesehatan garis depan pada Rabu di tengah penurunan yang stabil dalam kasus dan kematian yang dikonfirmasi, dan beberapa hari setelah Pakistan menerima setengah juta dosis vaksin Sinopharm yang disumbangkan oleh China.
Foto: AP / Fareed Khan
Seorang dokter menerima vaksin virus Corona Sinopharm dari seorang perawat di pusat vaksinasi, di Karachi, Pakistan, Rabu, 3 Februari 2021. Otoritas Pakistan mulai memvaksinasi petugas kesehatan garis depan pada Rabu di tengah penurunan yang stabil dalam kasus dan kematian yang dikonfirmasi, dan beberapa hari setelah Pakistan menerima setengah juta dosis vaksin Sinopharm yang disumbangkan oleh China.

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Otoritas Pakistan telah meminta Arab Saudi memasukkan vaksin asal China ke dalam daftar suntikan Covid-19 yang disetujui bagi pengunjung bepergian ke Saudi, baik untuk melakukan haji dan umrah. Hal ini disampaikan juru bicara Kantor Luar Negeri, Zahid Hafeez Chaudhry, Sabtu (22/5).

"Pakistan telah membahas dengan Kerajaan Arab Saudi masalah vaksin yang wajib untuk perjalanan ke Arab Saudi untuk Umrah dan Haji," kata Chaudhry dikutip di The News Pakistan, Senin (24/5).

Baca Juga

Kementerian Luar Negeri pun disebut secara aktif mengejar masalah ini dengan pihak Saudi. Persyaratan vaksinasi telah menimbulkan pertanyaan bagi warga negara Pakistan, yang berniat mengunjungi kerajaan untuk berziarah atau tujuan lain.

Menurut laporan media, orang yang belum diberikan suntikan Pfizer, AstraZeneca, Moderna atau Johnson dan Johnson, mungkin perlu melakukan karantina diri untuk waktu yang cukup lama saat tiba di Arab Saudi.

Sementara, sebagian besar masyarakat Pakistan menerima suntikan vaksin asal China, dalam upaya kampanye imunisasi yang dijalankan pemerintah pada Februari lalu.

Negara itu baru mulai menggunakan AstraZeneca untuk menyuntik warganya awal bulan ini, setelah menerima 1,2 juta dosis vaksin di bawah program COVAX Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk distribusi yang adil di antara negara-negara berkembang. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement