Ahad 23 May 2021 08:48 WIB

KKP: SKPT Biak Siap Ekspor Perdana ke Jepang dan Cina

Ditjen PDSPKP telah menyusun pembangunan pabrik es kapasitas 20 ton melalui dana APBN

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Agus Yulianto
Pekerja memotong dan membersihkan ikan tuna kualitas ekspor.
Foto: Antara
Pekerja memotong dan membersihkan ikan tuna kualitas ekspor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Biak tengah bersiap untuk melakukan ekspor perdana ke Jepang dan Cina. Rencananya, produk yang akan diekspor ke Negeri Sakura meliputi tuna fresh whole, tuna loin fresh, kepiting, lobster, udang tiger frozen, ikan demersal, unagi, dan kerapu sunu hidup. 

"Ekspor perdana berupa multi products mengingat saat ini baru mulai terjadi musim timur yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus 2021," ujar Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Artati Widiarti, dalam siaran pers di Jakarta, Ahad (23/5).

Saat meninjau kesiapan ekspor dari SKPT pekan lalu, Artati juga melihat langsung produk yang akan diekspor ke Negeri Tirai Bambu yakni ikan cakalang. Dari kunjungan tersebut, dia juga mengecek langsung kesiapan fasilitas integerated cold storage (ICS) yang dibangun KKP di SKPT Biak. Tak hanya itu, dia juga memeriksa pendampingan pemenuhan persyaratan dan persiapan sertifikasi Good Manufacturing Practice berupa Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) yang dilakukan jajarannya di Biak.

"Alhamdulillah, ini buah dari kerja keras berbagai pihak, kita melakukan pendampingan dan akan ada ekspor perdana dari Biak. Tentu ini kebanggaan bagi Papua, bagi Indonesia," ucap Artati.

Guna menjaga dan meningkatkan ekspor dari Biak di masa yang akan datang, Artati memastikan, Ditjen PDSPKP telah menyusun rencana jangka menengah dan jangka panjang seperti pembangunan pabrik es kapasitas 20 ton melalui dana APBN 2022. 

Artati juga meminta, jajarannya untuk terus menjalin kerja sama dengan Pemda dan Pelindo IV dalam pemanfaatan sebagian dermaga umum sebagai tambat labuh kapal ikan berukuran diatas 30 GT. Kerja sama Ditjen PDSPKP dengan Pelindo IV sendiri telah dibangun sejak 2019 hingga sekarang.

Hal ini menjadi salah satu bentuk implementasi sinergi program Ditjen PDSPKP dan Pelindo IV dalam meningkatkan ekspor dan penguatan logistik ikan nasional. "Kita juga berkomunikasi dengan Pemda untuk menyediakan lahan bagi calon investor yang akan membangun unit pengolah ikan," sambung Artati.

Sejak 2017, ucap Artati, Ditjen PDSPKP sebagai penanggung jawab SKPT Biak telah membangun sejumlah sarana dan prasarana meliputi ICS, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), 100 unit kapal 3 GT lengkap dengan alat tangkap, penyediaan sarana rantai dingin untuk nelayan berupa sarana cool box dan chest freezer. Seluruh sarana dan prasarana telah dimanfaatkan dengan baik.

Selain itu, ucap Artati, KKP melalui Ditjen PDSPKP juga melakukan pembangunan sumber daya manusia melalui edukasi seperti pelatihan dan bimbingan teknis kepada masyarakat perikanan berupa peningkatan kapasitas kelembagaan dari sebelumnya bersifat soliter, kemudian berkelompok dan saat ini telah bergabung dalam lembaga koperasi perikanan.

Selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan usahanya, sejumlah nelayan telah difasilitasi akses pembiayaan melalui kredit program (KUR) yang digunakan nelayan untuk pembelian kapal dan modal kerja melaut. Dalam pengelolaan usahanya, nelayan penerima KUR telah bekerja sama dengan Koperasi Karper untuk menjual hasil tangkapan dan sekaligus pembayaran angsuran. 

"Model ini sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi kredit macet," ungkap Artati.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritimqn dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menargetkan ekspor produk perikanan secara langsung dari Biak pada Juli 2021. Di bawah kepemimpinan Menteri Sakti Wahyu Trenggono, KKP juga menargetkan peningkatan kualitas produk hasil perikanan untuk menggenjot volume dan nilai ekspor pada tahun ini.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement