Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Studi: Kasus Sakit Jantung di AS Naik Saat Pemilu 2016

Ahad 23 May 2021 05:24 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Dwi Murdaningsih

Sakit jantung (ilustrasi)

Sakit jantung (ilustrasi)

Foto: Pixabay
Bagi warga AS, pemilu 2016 sangat menegangkan dan terpolarisasi jauh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi mengungkapkan pasien jantung di Amerika Serikat (AS) rata-rata didasari karena stres dari pemilihan presiden AS pada 2016. Namun, hal ini masih ditelusuri apakah pemilihan politik yang kontroversial akan meningkatkan penyakit aritmia jantung kepada pasien.

"Politik Amerika membuat stres. Saya pikir bagi banyak orang Amerika, khususnya pada pemilihan presiden AS 2016 sangat menegangkan. Sebab, tingkat kecemasan, permusuhan dan retorika partisan yang belum pernah terjadi sebelumnya selama kampanye dan reaksi yang terpolarisasi terhadap hasil pemilihan," kata Asisten Profesor Kedokteran di Divisi Kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas North Carolina, Lindsey Rosman dikutip dari thehill pada Sabtu (22/5).

Para peneliti mempelajari data perangkat jantung dari hampir 2.500 orang yang tinggal di North Carolina pada bulan Oktober dan November 2016. Pada kelompok tersebut ditemykan peningkatan 77 persen pada aritmia jantung serta detak jantung tidak teratur selama enam minggu. Periode yang diteliti adalah 25 Oktober hingga 6 Desember 2016 dibandingkan dengan periode kontrol yang terjadi dari 1 Juni hingga 12 Juli.

Menurut para peneliti, secara keseluruhan, 2.592 kejadian aritmia terjadi pada 655 pasien selama periode bahaya. Sedangkan pada periode kontrol terdapat 1.533 kejadian pada 472 pasien.

 "Ada spekulasi yang cukup besar kalau tekanan mental dari pemilu politik dapat berdampak buruk pada kesehatan penduduk. Insiden kardiovaskular akut yang lebih tinggi, termasuk aritmia jantung yang berpotensi fatal, telah dilaporkan setelah bencana alam, tragedi nasional dan skala besar lainnya," kata salah satu peneliti.

Para peneliti memilih sampel mereka dari orang dewasa yang terdaftar dalam program pemantauan jarak jauh di dua pusat besar di North Carolina, Amerika Serikat. Negara bagian itu merupakan medan pertempuran yang sangat kontroversial pada tahun 2016.

"Jadi, kelompok ini secara unik cocok untuk menyelidiki hubungan antara pemilihan politik yang penuh tekanan dan risiko aritmia jangka pendek,” kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA