Sabtu 22 May 2021 05:31 WIB

WNI Ceritakan Situasi Gaza Pascagencatan Senjata

Israel panik dan kaget dengan adanya kekuatan yang dimiliki oleh pejuang Palestina.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Andi Nur Aminah
Napak tilas Bang Onim di Palestina
Foto: foto: suarapalestina.id
Napak tilas Bang Onim di Palestina

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah seorang warga negara Indonesia (WNI) sekaligus penggagas Nusantara Palestina Center (NPC), Abdillah Onim, menceritakan pengalaman di Gaza setelah gencatan senjata. Alhamdulillah, berkat doa dari teman-teman Muslim, warga Gaza masih dalam lindungan Allah.

“Israel panik dan kaget dengan adanya kekuatan yang dimiliki oleh pejuang Palestina. Saya adalah saksi menyatakan kekuatan Palestina untuk Palestina tahun ini luar biasa. Mereka buktikan kepada Israel, tidak main-main,” kata pria yang akrab disapa Bang Onim dalam gelar wicara Live Report Terkini dari Gaza Palestina di kanal Youtube Aksi Insan Nusantara.

Baca Juga

Semalam, Onim sempat berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi. Dia menelepon Bang Onim dan menyampaikan dukungan serta perlindungannya untuk WNI di Gaza. “Kapan pun WNI meminta bantuan Pemerintah Indonesia, khususnya ke Bu Retno, mereka segera bergerak untuk mengevakuasi kita,” ujarnya mengutip Menlu Retno Marsudi.

Namun, Onim mengatakan tidak mau dievakuasi karena tetap ingin berjuang bersama para pejuang Palestina. Jika kalau bukan kemenangan, syahid yang akan dia dapatkan.

Onim menceritakan keteguhan penduduk Palestina dalam melewati ujian ini. Mereka selalu bertawakal kepada Allah. Onim menyebut dari dua juta penduduk Gaza, 87 persennya hidup di bawah garis kemiskinan. Selama pertempuran 11 hari itu, dia mengaku berlindung bersama keluarganya di bawah tangga.

“Jika rumah kami dibombardir, kami selalu bertawakal kepada Allah karena kami yakin, kami berada di tanah Palestina, tanah para nabi, kiblat pertama Islam. Maka, tidak sia-sia kalau mengembuskan napas terakhir di sini,” ujarnya.

Beberapa hari lalu, dia mengunjungi rumah sakit dan bertemu beberapa pasien untuk memberikan bantuan. Dia melihat banyak warga sipil yang menjadi korban. Saat gencatan senjata ini, banyak bantuan obat-obatan dan ambulans yang dibutuhkan di rumah sakit di Gaza.

Selain itu, mereka juga membutuhkan distribusi air minum dan makanan untuk beberapa hari ke depan. Selama peperangan, semua bangunan dijadikan sasaran oleh Israel. Tidak ada lagi tempat untuk berlindung. Bahkan, bangunan sekolah umat Kristen juga diserang.

“Untuk perbaikan dari perang ini bisa sampai dua tahun. Selama itu, mereka bisa membangun rumah. Anak-anak Gaza kembali jiwanya dan warga Gaza hidup normal lagi. Tapi, selamanya mereka tetap dijajah dan berjuang,” ucap dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement