Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Pesan Umar bin Khattab untuk Saad Sebelum Perang di Irak

Kamis 20 May 2021 20:05 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Umar bin Khattab memberikan motivasi kepada Saad bin Abi Waqash. Ilustrasi perang di Irak

Umar bin Khattab memberikan motivasi kepada Saad bin Abi Waqash. Ilustrasi perang di Irak

Foto: Pixabay
Umar bin Khattab memberikan motivasi kepada Saad bin Abi Waqash

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pada tahun ke-14 Hijriyah, banyak peristiwa terjadi dan yang paling menonjol adalah Perang Qadisiyah. Perang ini terjadi ketika umat Muslim meraih kemenangan sebagai salah satu peradaban paling terkenal di Timur.

Tahun tersebut, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dalam Bidayah wa An-Nihayah, dimulai dengan Khalifah Umar bin Khattab mendesak orang-orang dan mendorong mereka untuk memerangi rakyat Irak, khususnya ketika terbetik kabar terbunuhnya Abu Ubaid dalam peperangan di Jembatan Sungai Eufrat.

Baca Juga

Saat itu pula kekuatan Persia di bawah kepemimpinan Yazdigrid dari Kerajaan Persia mulai menguat. Hal ini diperparah dengan adanya pengkhianatan ahlu Dzimmah di Irak terhadap kesepakatan yang mereka buat dengan kaum Muslimin.

Mereka tidak lagi tunduk pada pemeritahan Islam dan mengusir para gubernur wilayah yang sebelumnya ditunjuk Umar bin Khattab. Dalam kondisi ini, Umar mengeluarkan perintah kepada pasukannya supaya keluar dari wilayah Persia dan berkumpul di pengujung negeri-negeri jajahan Persia.

Para sahabat Nabi Muhammad SAW berkumpul dan mendiskusikan soal siapa yang patut dikirim untuk menyerang Persia. Awalnya Umar bin Khattab ingin memimpin sendiri pasukan untuk menyerang Persia. Namun atas dasar usulan Abdurrahman bin Auf, Umar tidak jadi berangkat dan memilih Saad bin Malik al-Zahri atau Saad bin Abi Waqash untuk memimpin pasukan menaklukkan Irak.

Umar pun menitip pesan kepada Saad bin Abi Waqash sebelum berangkat Irak. Dalam wasiat itu, Umar meminta Saad untuk tidak berbangga dengan kedudukannya sebagai keponakan Rasulullah SAW dan sekaligus sebagai sahabatnya. Sebab, Allah SWT tidak menghapus kejelekan dengan kejelekan tetapi menghapus kejelekan dengan kebaikan.

"Tidak ada gunanya berbangga dengan nasab di sisi Allah kecuali dengan ketaatan yang tulus kepada-Nya. Seluruh manusia, baik itu yang berasal dari keturunan mulia atau hina sekalipun, pada hakikatnya sama dalam pandangan Allah. Mereka semua hamba Allah dan Allah adalah Rabb mereka. Mereka dipandang sesuai ampunan Allah SWT dan kadar ketaatan mereka kepada Allah SWT," tutur Umar.

"Lihatlah semua yang telah dilakukan Rasulullah SAW sejak diutus hingga berpisah dengan kita. Ikuti jejaknya karena itulah kebaikan yang hakiki. Inilah nasihatku padamu (Saad bin Abi Waqash) dan jika engkau menolaknya dan membencinya, maka amalanmu akan gugur sia-sia dan engkau akan menjadi orang-orang yang merugi."

Umar juga mengingatkan bahwa Saad bin Abi Waqash akan menghadapi perkara yang sangat berat. Umar meminta Saad untuk bersabar terhadap apapun yang terjadi. Niscaya akan terkumpul rasa takut kepada Allah. Takut kepada Allah akan dapat segala yang dilarang-Nya. Dan siapa yang selalu patuh dan tunduk kepada-Nya maka merekalah yang membenci dunia dan mencintai akhirat.

"Sedangkan orang-orang yang bermaksiat melanggar perintah-Nya adalah orang-orang yang mencintai dunia dan membenci akhirat. Hati diciptakan Allah memiliki hakikat, ada yang bersifat rahasia dan terang-terangan," kata Umar.

Hakikat hati yang terang-terangan, tutur Umar, yaitu ketika merasa orang yang memujinya dan menghinanya sama saja dan tidak bisa memengaruhi dirinya dalam berbuat kebaikan. Sedangkan hakikat hati yang rahasia dapat diketahui dengan munculnya hikmah dari dalam hatinya melalui ungkapan lidahnya, dan kecintaan manusia terhadap dirinya.

"Sesungguhnya jika Allah mencintai seseorang, Allah akan menjadikan orang tersebut dicintai makhluk-Nya. Dan bila Allah SWT membenci seorang hamba, maka Dia akan menjadikan hamba tersebut dibenci oleh makhluk-Nya. Karena itu ukurlah di mana kedudukan dirimu di sisi Allah dengan kedudukanmu di sisi manusia," ujar Umar.

Saat itulah, Saad bin Abi Waqash berangkat ke Irak dengan pasukan berjumlah 4.000 orang dan 3.000-nya berasal dari Yaman. Riwayat lain menyebut pasukan yang dibawa Saad berjumlah 6.000.

 

Sumber: youm7  

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA