Kamis 20 May 2021 13:02 WIB

Sistem Kesehatan Gaza Kewalahan Tangani Korban Serangan

Sistem kesehatan Gaza kekurangan obat-obatan penting dan bahan bakar

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih
Seorang petugas medis Palestina memberikan perawatan kepada seorang gadis yang terluka di ICU rumah sakit Shifa, Kamis, 13 Mei 2021, di Kota Gaza.
Foto: AP Photo/Khalil Hamra
Seorang petugas medis Palestina memberikan perawatan kepada seorang gadis yang terluka di ICU rumah sakit Shifa, Kamis, 13 Mei 2021, di Kota Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Sistem kesehatan di Gaza kewalahan dengan gelombang korban meninggal dan terluka akibat pengeboman Israel. Mereka kekurangan obat-obatan penting dan bahan bakar untuk menjaga aliran listrik.

Dua dari dokter paling terkemuka di Gaza gugur ketika rumah mereka hancur dalam serangan sejak pertempuran antara Hamas dan Israel meletus 10 hari lalu. Saat Gaza telah keluar dari gelombang kedua infeksi virus corona, satu-satunya laboratorium pengujian virus rusak oleh serangan udara dan telah ditutup. Pejabat kesehatan khawatir pandemi virus corona akan menyebar di antara puluhan ribu penduduk yang berdesakan di tempat penampungan darurat, setelah melarikan diri dari serangan besar-besaran.

Baca Juga

Penasihat media untuk UNRWA, Adnan Abu Hasna, mengatakan infrastruktur kesehatan Jalur Gaza sudah runtuh sebelum terjadi serangan pada 10 Mei. Sektor ini telah terpukul oleh tiga perang sebelumnya antara Israel dan kelompok Hamas di Gaza.

Dalam setiap pertempuran, rumah sakit dan klinik dirusak atau dihancurkan, serta personel medis gugur. Setelah pertempuran, pihak berwenang harus membangun kembali sistem kesehatan yang terhambat oleh blokade yang diberlakukan oleh Israel dan Mesir sejak Hamas mengambil alih kekuasaan pada 2007.

Gejolak lain juga telah membebani sistem kesehatan Gaza. Lebih dari dua tahun aksi protes mingguan di perbatasan Israel terus menerus menuai korban. Lebih dari 35 ribu orang terluka, banyak yang cacat semur hidup, dan 100 orang lainnya masih menunggu operasi rekonstruksi dan amputasi. Sekarang fasilitas kesehatan berjuang untuk menangani korban perang dan kebutuhan sehari-hari dari 2 juta warga Gaza.

“Ini adalah krisis lapis demi lapis. Dan tidak pernah ada cukup waktu di antara setiap krisis untuk membangun kembali. Sistem (perawatan kesehatan) secara bertahap melemah secara signifikan. Saya tidak akan mengatakan itu lumpuh, tetapi semakin dekat," ujar Direktur Operasional UNRWA di Gaza, Matthias Schmale.

Sejak serangan terbaru dimulai pada 10 Mei, Israel menyatakan mereka mencoba melumpuhkan Hamas yang sebelumnya telah menembakkan ratusan roket. Hamas menembakkan roket sebagai tanggapan atas perampasan hak warga Palestina untuk beribadah selama bulan ramadan di masjid al-Aqsa. Hak warga Palestina juga dirampas dalam pengusiran secara paksa oleh Israel di wilayah Sheikh Jarrah.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement