Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Yang Perlu Diperhatikan dari Merger Gojek dan Tokopedia

Kamis 20 May 2021 12:39 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

chairman lembaga riset siber Indonesia CISSReC, Pratama Dahlian Persadha.

chairman lembaga riset siber Indonesia CISSReC, Pratama Dahlian Persadha.

Foto: Antara
Merger Gojek dan Tokopedia memiliki konsekuensi pada pengelolaan data.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perusahaan teknologi daring Gojek Indonesia dan Tokopedia telah resmi bergabung. Kini, keduanya membentuk entitas baru yang disebut memiliki ekosistem, dengan menyumbang dua persen dari PDB negara.

Dikenal sebagai GoTo Group, organisasi baru yang dibentuk dari gabungan keduanya memiliki lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan. Ini juga termasuk dengan unit fintech yang bernama GoTo Financial.

Pakar keamanan siber sekaligus Kepala lembaga riset siber Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha mengatakan bergabungnya Gojek dan Tokopedia memiliki konsekuensi pada pengelolaan data, secara khusus dari sisi keamanan data pengguna. Selama ini, kedua perusahaan daring ini mengolah data dalam jumlah besar.

“Namun patut dicermati juga bahwa keduanya (Gojek dan Tokopedia) punka pengalaman kurang baik pada sistem informasinya,“ ujar Pratama dalam rilis CISSReC, yang diterima Republika.co.id, pada Kamis (20/5).

Pratama mengatakan pada pertengahan 2020, Tokopedia digegerkan dengan bocornya 91 juta lebih data pemakai dan Gojek beberapa kali mengalami fraud (penipuan) pada banyak pemakai GoPay. Ia menyebut semakin besar sebuah platform, maka hal ini juga semakin menarik perhatian pelaku kejahatan, seperti hacker.

Bahkan, Pratama menilai tidak hanya hacker lokal yang mengincar, namun juga hacker global. Ia mengatakan bahwa startup baru dengan nama GoTo ini sudah termasuk ke dalam level startup dengan valuasi terbesar di dunia.

"Belum lagi adanya teknologi keuangan pada Gopay. Bukan hanya data pribadi yang berpotensi dicuri oleh penjahat siber, tapi juga bisa uang customernya kalau pengamanannya tidak benar-benar kuat," jelas Pratama.

Pratama menegaskan bahwa masalah keamanan data harus menjadi perhatian serius bagi Gojek dan Tokopedia. Ia menggarisbawahi bahwa keduanya adalah aplikasi terbesar di Indonesia saat ini, sehingga, dengan merger yang dilakukan diharapkan tidak membuat resiko keamanan data masyarakat menjadi bertambah besar.

"Timing Gojek dan Tokopedia merger mungkin saja mengejar sebelum UU PDP disahkan, jadi belum ada aturan teknis macam-macam terkait pengamanan data pribadi. Namun bila nanti UU PDP sudah jadi, mereka tetap harus melakukan penyesuaian,” kata Pratama menambahkan.

Pratama menegaskan bahwa pengamanan data harus menjadi fokus Tokopedia dan Gojek bila nanti aplikasi dan sistem benar-benar menyatu dalam satu wadah. Bergabungnya dua aplikasi ini juga disebut akan melahirkan pembacaan data baru yang sangat tinggi nilai ekonominya dan sangat singnifikan bagi ketahanan serta keamanan nasional

“Keduanya akan menguasai jalur distribusi manusia, barang dan makanan. Tentu negara juga harus melihat ini sebagai peluang besar sekaligus ancaman dari sudut pandang pengamanan data dan juga keamanan nasional,” jelas Pratama.

Menurut Pratama, sebaiknya pengamanan data harus mendapatkan prioritas oleh pengelola dan juga oleh pemerintah. Berbeda dengan data kependudukan yang cenderung statis dan tidak menghasilkan data baru, data dari GoJek dan Tokopedia ini dinamis karena ada data jual beli dan kebutuhan masyarakat yang pasti tidak dimiliki oleh lembaga negara manapun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA