Rabu 19 May 2021 21:03 WIB

Hak Veto AS bungkam DK PBB Redam Krisis Israel-Palestina

China: Hak veto AS bungkam upaya DK PBB redam krisis Israel-Palestina

Ilustrasi: Serangan Israel ke Jalur Gaza.
Foto: Anadolu Agency
Ilustrasi: Serangan Israel ke Jalur Gaza.

IHRAM.CO.ID, ANKARA -- China mengkritik peran Amerika Serikat dalam ketegangan di Timur Tengah, menyebut bahwa hak veto negara itu telah melumpuhkan upaya Dewan Keamanan PBB meredam krisis Israel-Palestina.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Selasa malam, Kementerian Luar Negeri mendesak Israel menyepakati gencatan senjata total di Palestina.

"Apa yang AS lakukan di tengah krisis ini sangat mengecewakan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian di Twitter.

"Upaya hak asasi manusia apa yang dipuji AS ketika rakyat Palestina menderita? Apakah ini yang disebut AS sebagai tatanan internasional berbasis aturan?" lanjut dia.

Sebelumnya, Lijian mengatakan AS justru tampak lebih siap untuk eskalasi ketegangan ketimbang mengambil tindakan proaktif.

"AS telah diisolasi di Dewan Keamanan dan berdiri di sisi yang berlawanan dari moralitas umat manusia," kata dia lagi.

Pernyataan itu merujuk pada upaya DK PBB menuntut gencatan senjata segera yang semuanya telah diblokir oleh AS.

"Komunitas internasional sangat kecewa dengan sikap AS. Mengapa AS begitu tidak berperasaan tentang hak asasi rakyat Palestina? Bukankah mereka hanya menggunakan hak asasi manusia sebagai dalih? " tandas Lijian.

Jubir itu juga menuding Washington hanya peduli pada kepentingannya, bukan pada penyelesaian krisis itu sendiri.

Lijian mengakui dia skeptis soal laporan bahwa Presiden AS Joe Biden mendukung gencatan senjata Israel-Palestina, yang menurutnya tidak cukup untuk meredakan ketegangan.

Lebih lanjut, dia meyakinkan bahwa negaranya akan terus mendorong Dewan Keamanan untuk memenuhi tugasnya.

China dan Norwegia mengajukan pertemuan DK PBB lain pada Selasa untuk membahas serangan Israel di Jalur Gaza.

Korban tewas di Gaza mencapai 221 pada Rabu, termasuk 63 anak-anak dan 36 perempuan, dan 1.507 lainnya luka-luka, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement