Rabu 19 May 2021 17:11 WIB

Riset Ungkap 3 Risiko Pengaruhi Pemulihan Ekonomi Global

Laju cepat ekonomi AS akibatkan kekhawatiran di pasar keuangan.

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha
Deretan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (18/5). PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengungkapkan tiga risiko yang mempengaruhi pemulihan ekonomi global.
Foto: ANTARA/Aprillio Akbar
Deretan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (18/5). PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengungkapkan tiga risiko yang mempengaruhi pemulihan ekonomi global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengungkapkan tiga risiko yang mempengaruhi pemulihan ekonomi global. Hal ini perlu diperhatikan dalam rangka mencegah potensi penurunan pertumbuhan. 

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan tiga risiko itu meliputi dinamika pemulihan ekonomi AS, peningkatan kasus Covid-19 terutama akibat munculnya varian baru yang menular lebih cepat seperti di India, serta terhambatnya distribusi vaksin yang merata ke seluruh dunia.

Baca Juga

“Kalau kita lihat kita bagi tiga kawasan yaitu Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Ini mengalami tantangan masing-masing,” ujarnya saat acara Media Gathering Virtual Economic Outlook & Industri Kuartal II 2021, Rabu (19/5).

Kedua lanjut Andry perekonomian terbesar dunia yaitu AS dan China mencatat pertumbuhan positif pada kuartal I 2021, sedangkan banyak negara di Kawasan Eropa dan Asia masih terkontraksi meski dengan skala yang membaik. Adapun beberapa negara di Eropa mengalami double-dip recession akibat lockdown yang kembali diterapkan akibat terjadinya gelombang kedua Covid-19.

“Ekonomi AS tumbuh 0,4 persen (yoy) didukung meningkatnya aktivitas seiring dilonggarkannya restriksi dengan semakin meluasnya distribusi vaksin serta tambahan stimulus yang diperkirakan dapat menopang laju pemulihan ke depan,” ungkapnya.

Dari sisi lain, Andry menyatakan pertumbuhan ekonomi AS yang melaju lebih cepat ini mengakibatkan kekhawatiran pada pasar keuangan global karena berpotensi terjadi reflasi atau kenaikan inflasi yang cepat di AS. Adapun dinamika ekonomi AS perlu terus dimonitor meski The Fed sudah menekankan perlunya kebijakan moneter yang longgar untuk memastikan pemulihan ekonomi berjalan lancar.

Menurut Andry hal itu harus dilakukan karena pemulihan ekonomi lebih cepat dapat memicu penarikan stimulus moneter yang lebih cepat juga atau QE tapering, sehingga berdampak negatif pada pasar keuangan global termasuk pasar keuangan domestik.

“The Fed masih menekankan komitmennya untuk menahan suku bunga rendah hingga beberapa tahun ke depan namun dinamika ekonomi AS perlu terus dimonitor,” ucapnya.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi China yang meningkat tajam sebesar 18,3 persen (yoy). Hal ini sejalan pulihnya ekonomi dan terkendalinya penyebaran Covid-19.

“Pulihnya ekonomi China ini mampu mendorong harga-harga komoditas global seperti batubara, CPO, dan minyak yang meningkat,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement