Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Proses Munculnya Gerhana Bulan Saat Detik-Detik Waisak

Rabu 19 May 2021 15:14 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih

Cahaya bulan purnama terlihat redup saat memasuki fase Gerhana Bulan Penumbra di langit Kota Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (11/1/2020) dini hari.

Cahaya bulan purnama terlihat redup saat memasuki fase Gerhana Bulan Penumbra di langit Kota Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (11/1/2020) dini hari.

Foto: Antara/Rahmad
Gerhana bulan muncul saat detik-detik Waisak pada 26 Mei mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena kosmik Gerhana Bulan Total (GBT) akan muncul saat detik-detik Waisak pada 26 Mei mendatang. Lembaga Antariksa dan dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menyebut GBT kali ini sangat spesial karena beriringan dengan terjadinya Perige (titik terdekat dengan Bumi), yakni ketika Bulan berada di jarak terdekatnya dengan Bumi.

Puncak gerhana akan terjadi pada pukul 18.18.43 WIB/ 19.18.43 WITA/ 20.18.43 WIT dengan jarak 357.464 kilometer dari Bumi. Sementara itu puncak perige terjadi pada pukul 08.57.46 WIB/ 09.57.46 WITA/ 10.57.46 WIT dengan jarak 357.316 kilometer dari Bumi.

Gerhana Bulan kali ini juga dapat disebut Bulan Merah Super mengingat lebar sudutnya yang lebih besar 13,77 persen dibandingkan dengan ketika berada di titik terjauhnya (apoge). Kecerlangannya 15,6 persen lebih terang dibandingkan dengan rata-rata atau 29,1 persen lebih terang dibandingkan dengan ketika apoge. Selain itu, durasi fase total gerhana kali ini cukup singkat, yakni 14 menit 30 detik.

GBT kali ini bertepatan dengan Detik-detik Waisak yang jatuh pada 26 Mei pukul 18.13.30 WIB/19.13.30 WITA/ 20.13.30 WIT. Pada dasarnya, detik-detik Waisak terjadi ketika Purnama Waisak atau disebut juga Waisaka Purnima yang selalu jatuh pada tanggal 15 suklapaksa di bulan Waisaka.

Saat bulan purnama, Matahari dan Bulan akan berada dalam satu garis lurus, sedemikian rupa sehingga cahaya Matahari dapat menerangi permukaan Bulan secara maksimal dengan Bumi berada di antara keduanya. Karena cahaya Matahari menerangi permukaan Bulan secara maksimal, maka bulan nampak bulat sempurna dipandang dari Bumi.

Kedudukan membentuk garis lurus seperti itu dikenal dengan istilah oposisi (solar) atau istiqbal. Jadi, Matahari dan Bulan membentuk sudut 180 derajat satu sama lain dalam peredarannya. Saat kedua benda langit tersebut tepat membentuk sudut 180 derajat di hari Waisak dikenal sebagai 'detik-detik Waisak'.

Dengan kata lain, detik-detik Waisak merupakan puncak bulan purnama pada bulan Waisaka menurut penanggalan India yang didasari oleh peredaran Bulan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA