Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Serangan Israel Renggut Lebih Banyak Nyawa Warga Palestina

Rabu 19 May 2021 14:08 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

 Petugas pemadam kebakaran Palestina bekerja untuk memadamkan api di pabrik cat setelah dilanda serangan udara Israel, di Rafah, Jalur Gaza, Selasa, 18 Mei 2021.

Petugas pemadam kebakaran Palestina bekerja untuk memadamkan api di pabrik cat setelah dilanda serangan udara Israel, di Rafah, Jalur Gaza, Selasa, 18 Mei 2021.

Foto: AP/Yousef Masoud
Serangan udara hebat dan tembakan roket Israel ke Gaza merenggut lebih banyak nyawa

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Serangan udara hebat dan tembakan roket Israel ke Gaza merenggut lebih banyak nyawa pada Selasa (18/5). Seruan untuk gencatan senjata pun semakin kencang, meski Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan melanjutkan serangannya.

Menurut Kementerian Kesehatan Hamas, kampanye pengeboman Israel yang nyaris tanpa henti telah menggugurkan 217 warga Palestina, termasuk 63 anak-anak, dan melukai lebih dari 1.400 orang hanya dalam waktu sepekan di daerah kantong yang dikelola Hamas. Sedangkan dari pihak Israel meningkat menjadi 12 orang akibat serangan Hamas ke wilayah selatan Eshkol.

Serangan Israel yang kembali mengirimkan bola api, puing-puing, dan asap hitam ke langit telah membuat dua juta warga Palestina di Gaza putus asa untuk mendapatkan penangguhan hukuman. "Mereka menghancurkan rumah kami tetapi saya tidak tahu mengapa mereka menargetkan kami," kata Nazmi al-Dahdouh dari Gaza.

Terlebih lagi konvoi truk bantuan internasional yang mulai meluncur ke Gaza melalui sebuah perlintasan perbatasan dari Israel, Kerem Shalom, terhenti. Israel dengan cepat menutupnya lagi dengan alasan terdapat serangan di daerah tersebut.

Serangan roket yang terus menggempur Gaza berisiko memicu bencana kemanusiaan. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan 58.000 warga Palestina telah mengungsi dan 2.500 kehilangan rumah mereka.

Untuk mendukung warga Palestina di Gaza, penduduk di Tepi Barat dan Yerusalem timur yang dianeksasi Israel melakukan protes dan pemogokan umum yang menutup bisnis yang tidak penting pada Selasa. Kelompok Fatah melalui Presiden Palestina Mahmud Abbas telah menyerukan hari kemarahan dengan seruan bergema di kota-kota Arab dan etnis campuran di dalam Israel.

"Kami di sini untuk bersuara dan berdiri bersama orang-orang di Gaza yang dibom," kata pengunjuk rasa di Ramallah, Aya Dabour.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan empat warga Palestina ditembak mati di Tepi Barat, menjadikan jumlah total warga Palestina yang tewas di sana sejak 10 Mei menjadi 24 orang. Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan timnya telah merawat lebih dari 150 orang di Yerusalem dan Tepi Barat yang diduduki, termasuk 35 orang dengan luka tembak dan lebih dari 80 orang menderita menghirup gas air mata.

sumber : Channel News Asia
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA