Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Studi: Vaksin Pfizer dan Moderna Ampuh Lawan Varian India

Selasa 18 May 2021 12:38 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Nora Azizah

 Berdasarkan penelitian terbaru oleh para ilmuan Amerika Serikat (AS), vaksin Pfizer dan Moderna Covid-19 sangat efektif melawan dua varian virus korona yang pertama kali diidentifikasi di India.

Berdasarkan penelitian terbaru oleh para ilmuan Amerika Serikat (AS), vaksin Pfizer dan Moderna Covid-19 sangat efektif melawan dua varian virus korona yang pertama kali diidentifikasi di India.

Foto: EPA-EFE/MARTIN DIVISEK
Studi diambil menggunakan sample darah orang yang sudah divaksinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Berdasarkan penelitian terbaru oleh para ilmuan Amerika Serikat (AS), vaksin Pfizer dan Moderna Covid-19 sangat efektif melawan dua varian virus korona yang pertama kali diidentifikasi di India. Hal tersebut, diklaim setelah para peneliti menggunakan sample darah orang yang sudah divaksinasi.

“Apa yang kami temukan adalah bahwa antibodi vaksin sedikit lebih lemah terhadap varian baru, tetapi itu tidak cukup bermasalah sehingga kami pikir itu akan lebih berpengaruh pada kemampuan perlindungan vaksin,” kata penulis senior Nathaniel Landau dikutip dari AFP Selasa (18/5).

Baca Juga

Dijelaskan, studi berbasis laboratorium oleh NYU Grossman School of Medicine dan NYU Langone Center itu masih pendahuluan, mengingat belum dipublikasikan dalam jurnal peer-review.

Lebih jauh, para peneliti juga memaparkan cara kerja penelitiannya di laboratorium ke partikel pseudovirus yang direkayasa dan mengandung mutasi di wilayah "lonjakan" virus corona. Khususnya, untuk varian B.1.617 atau B.1.618, yang pertama kali ditemukan di India.

Alhasil, campuran itu diekspos ke sel yang tumbuh di laboratorium, untuk melihat berapa banyak yang akan terinfeksi. Partikel pseudovirus yang direkayasa mengandung enzim yang disebut luciferase, dan digunakan kunang-kunang untuk menerangi. Menambahkannya ke pseudovirus memungkinkan untuk mengetahui berapa banyak sel yang terinfeksi, berdasarkan pengukuran cahaya.

Secara keseluruhan, untuk B.1.617 mereka menemukan pengurangan hampir empat kali lipat dalam jumlah antibodi penetral - protein berbentuk Y yang diciptakan sistem kekebalan untuk menghentikan patogen menyerang sel. Untuk B.1.618, pengurangannya sekitar tiga kali lipat.

“Dengan kata lain, beberapa antibodi sekarang tidak bekerja lagi melawan varian, tetapi Anda masih memiliki banyak antibodi yang bekerja melawan varian. Ada cukup banyak yang berhasil sehingga kami percaya bahwa vaksin akan sangat protektif,” kata Landau.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA