Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Tangan Eric Clapton 'Membeku' Setelah Suntik AstraZeneca

Selasa 18 May 2021 09:29 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Indira Rezkisari

Gitaris Eric Clapton

Gitaris Eric Clapton

Foto: EPA
Clapton takut efek vaksinasi membuatnya tak bisa main gitar lagi.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Musisi Eric Clapton takut dirinya tak bisa memainkan gitar lagi akibat efek samping setelah vaksinasi Covid-19. Pria 76 tahun asal Inggris itu mengalami kondisi tangan yang seperti membeku usai mendapat suntikan vaksin dosis kedua yang dia sampaikan dalam sebuah catatan.

Dia menyebut pengalamannya menerima vaksin AstraZeneca (AZ) sebagai bencana. Mantan personel band Cream itu mendapat vaksin dosis pertama pada Februari, dua bulan setelah dia dan Van Morrison merilis "Stand and Deliver", lagu yang memprotes lockdown di Inggris.

"Saya mendapat suntikan AZ pertama dan langsung mengalami reaksi parah yang berlangsung 10 hari, saya akhirnya sembuh dan diberitahu bahwa itu akan menjadi 12 pekan sebelum yang kedua," tulis Clapton kepada arsitek Italia Robin Monotti Graziadei.

Enam pekan kemudian dia mendapat suntikan vaksin AstraZeneca kedua, tetapi dengan lebih sedikit pengetahuan tentang bahayanya. Reaksinya ternyata sangat buruk, tangan dan kakinya terasa membeku, mati rasa, dan terbakar, hampir tidak bisa digerakkan selama dua pekan.

Clapton khawatir tidak akan bisa bermain gitar lagi. Sebelumnya, dia juga menderita neuropati perifer dan seharusnya tidak pernah mendekati jarum, namun vaksin disebut aman untuk semua orang sehingga Clapton tidak ragu divaksin.

Pemerintah Inggris menjelaskan efek samping vaksin AstraZeneca berkisar antara ringan hingga sedang dan diperkirakan hilang setelah beberapa hari. Ada sejumlah efek samping yang dikategorikan paling tidak umum dan yang mengalaminya harus segera melapor.

Efek itu termasuk sakit perut, pusing, kehilangan nafsu makan, pembesaran kelenjar getah bening, keringat berlebih, kulit gatal, dan ruam. Belum diketahui apakah ada pasien lain di Inggris atau negara lain yang merasakan efek samping dari vaksin serupa Clapton.

Sosok yang masuk daftar "100 Greatest Guitarists of All Time" versi Rolling Stone itu dikenal kerap bersikap skeptis terhadap peraturan Covid-19. Dia mengaku telah menjadi pemberontak sepanjang hidupnya, melawan tirani dan otoritas arogan.

Akan tetapi, Clapton juga mendambakan persahabatan, kasih sayang, dan cinta, meski dia dihina dan dicemooh untuk lirik lagu "Stand and Deliver". Hadirnya lagu itu juga membuat kasus pernyataan rasis dan xenofobia Clapton di masa silam kembali mencuat.

Pada konser 1976, Clapton yang mabuk meminta penonton "asing" mengangkat tangan dan menyuruh mereka meninggalkan pertunjukan. Dia melanjutkan dengan kata-kata kasar tentang "menjaga Inggris tetap putih" dan mengaku dulu suka obat bius dan kini rasis.

Clapton sudah meminta maaf atas komentar tersebut. Menyusul perilisan film dokumenter tentang hidupnya, Life in 12 Bars, Clapton mengatakan penyebab semua ucapan tersebut adalah kecanduan narkoba dan alkohol, dikutip dari laman Los Angeles Times, Selasa (18/5).


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA