Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

WHO Minta Vaksinasi Covid-19 Anak Ditunda

Selasa 18 May 2021 00:30 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Andi Nur Aminah

Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus

Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus

Foto: AP
AS berencana segera menerapkan program vaksinasi pada anak berusia 12 hingga 15 tahun

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara-negara yang lebih kaya untuk menunda rencana vaksinasi Covid-19 kepada anak-anak dan remaja. WHO mendorong agar negara-negara tersebut memasok lebih banyak stok vaksin mereka ke dalam skema Covax.

Direktur Jendral WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menyoroti bahwa distribusi internasional vaksin Covid-19 saat ini sangat tidak merata. Sejak disetujui penggunaannya pada Desember lalu, negara-negara yang lebih kaya memborong sebagian besar stok vaksin Covid-19 yang ada.

Baca Juga

Banyak negara yang berlomba-lomba untuk mendapatkan stok vaksin agar bisa memvaksinasi sebanyak mungkin penduduk mereka. Kondisi ini membuat negara yang lebih miskin tak bisa mendapatkan cukup banyak stok vaksin Covid-19.

Ada beberapa negara yang sudah memiliki rencana untuk melakukan vaksinasi pada anak dalam waktu dekat. Salah satunya adalah Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat Joe Biden berencana untuk segera menerapkan program vaksinasi pada anak berusia 12 hingga 15 tahun.

Negara lain yaitu Kanada telah mengizinkan penggunaan vaksin Covid Pfizer untuk anak berusia 12 hingga 15 tahun. Beberapa wilayah di Swiss juga sudah menawarkan program vaksinasi Covid-19 untuk anak berusia minimal 16 tahun.

Dalam sebuah konferensi pers virtual, Ghebreyesus mengungkapkan bahwa dia menyadari keinginan sebagian negara untuk mulai memvaksinasi anak-anak dan remaja. Akan tetapi, situasi saat ini membuat Ghebreyesus meminta negara-negara tersebut untuk berpikir ulang mengenai rencana mereka.

"Di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, pasokan vaksin Covid-19 tidak cukup bahkan untuk mengimunisasi tenaga kesehatan, dan banyak rumah sakit dibanjiri oleh orang-orang yang membutuhkan perawatan untuk menyelamatkan nyawa dengan segera," pungkas Ghebreyesus, seperti dilansir BBC.

Di India misalnya, banyak tenaga kesehatan di garda terdepan yang belum divaksinasi dan harus berhadapan dengan pasien Covid-19. Tak sedikit tenaga kesehatan yang gugur akibat Covid-19.

Ghebreyesus mengimbau agar negara-negara tersebut mengalihkan lebih banyak stok vaksin mereka ke dalam skema Covax. Skema Covax merupakan sebuah skema global yang dibuat dengan tujuan untuk memvaksinasi 20 persen populasi di 92 negara lebih miskin yang mendaftar. Program vaksinasi ini akan dimulai dari tenaga kesehatan.

Skema ini dipimpin oleh WHO, Global Vaccine Alliance (Gavi), dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (Cepi). Selain itu, Unicef juga menjadi rekan implementasi kunci dalam skema Covax.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA