Takwa Esensi Puasa Ramadhan tak Terbatas Ruang Waktu

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nashih Nashrullah

 Kamis 13 May 2021 19:13 WIB

Hakikat takwa adalah bertambahnya kesalehan sepanjang waktu. Bersujud sebagai bentuk ketakwaan (ilustrasi). Foto: Reuters Hakikat takwa adalah bertambahnya kesalehan sepanjang waktu. Bersujud sebagai bentuk ketakwaan (ilustrasi).

Hakikat takwa adalah bertambahnya kesalehan sepanjang waktu

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN – Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Fathul Wahid, mengatakan takwa merupakan elemen penting yang patut dimiliki seluruh umat Islam. Namun, eksistensi takwa tidak melulu harus dilakukan pada waktu dan tempat tertentu. 

Dia menekankan, takwa harus secara konsisten dilakukan agar maknanya benar-benar dirasa. Karenanya, Fathul berpesan agar seorang Muslim selalu berusaha konsisten dalam beribadah kepada Allah, meminimalkan sifat buruk yang tumbuh dalam diri. 

Baca Juga

"Pertama tidak menganggap kita ini sudah final, dijamin dan pasti seperti ini sampai akhir kita merasa orang baik. Di sisi lain, kadang merasa berhak hakimi orang yang menurut kita belum sesuai keyakinan," kata Fathul di Semarak Ramadhan UII, Rabu (12/5).

Untuk itu, dia menegaskan, jangan mudah menilai seseorang dari luarnya saja karena belum tentu orang yang dianggap buruk akan buruk selamanya. Sebaliknya, orang yang diagung-agungkan belum tentu berakhir baik, termasuk orang yang kita hina-hinakan. 

"Bisa jadi orang yang kita hinakan itu justru orang yang lebih mulia di akhir hayatnya," ujar Fathul dalam agenda yang diselenggarakan Masjid Ulil Albab itu.

Sebagai Muslim, lanjut Fathul, taat beragama menjadi skala prioritas dalam jalani kegiatan ibadah. Ibadah tidak hanya dilakukan ketika dalam keadaan senang ataupun mendapat rezeki, dan ketaatan beribadah dalam beragama harus dilakukan istiqomah.

Bahkan, walaupun sedang dalam kesusahan. Ini lagi-lagi menegaskan kalau ketaatan sebagai buah takwa itu tidak berbatas ruang dan waktu. Karenanya, dia mengajak kaum Muslim agar tidak berlebihan menghadapi situasi apapun, yang juga dilarang agama.

"Agama kita melarang kita berlebihan, ini juga jadi pagar lain. Di satu sisi kita diminta untuk bertakwa kapanpun, di manapun, tapi di sisi lain kita tidak diminta untuk berlebihan," kata Fathul. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X