Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Prancis Tingkatkan Diplomasi Kurangi Eskalasi di Yerusalem

Kamis 13 May 2021 14:39 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Pasukan Israel terlihat selama bentrokan dengan pengunjuk rasa Palestina di pusat kota kota Hebron, Tepi Barat, 11 Mei 2021.

Pasukan Israel terlihat selama bentrokan dengan pengunjuk rasa Palestina di pusat kota kota Hebron, Tepi Barat, 11 Mei 2021.

Foto: ABED AL HASHLAMOUN/EPA
Prancis bersama Jerman, Mesir, dan Yordania akan melakukan diplomasi

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis akan meningkatkan upaya diplomatik dengan Eropa dan negara-negara Timur Tengah, untuk mengurangi bentrokan antara Israel dan Palestina. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan, Prancis bersama Jerman, Mesir, dan Yordania akan melakukan diplomasi untuk membantu mengurangi ketegangan. 

Keempat negara akan mendorong Israel dan Palestina untuk melanjutkan dialog dengan tujuan resolusi konflik yang adil dan langgeng. Hal itu sesuai dengan kerangka hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Baca Juga

"Pada titik ini, satu-satunya prioritas adalah meredakan ketegangan," ujar Le Drian, dilansir Anadolu Agency, Kamis (13/5).

Le Drian mengatakan, dia akan berbicara dengan rekan-rekan Israel dan Palestina untuk menyampaikan tentang de-eskalasi. Le Drian menegaskan kembali bahwa Prancis sangat prihatin dengan situasi di Yerusalem. 

Le Drian mengutuk penjajahan Israel melalui penggusuran paksa penduduk Palestina di Yerusalem Timur dekat Kota Tua dan di lingkungan Sheikh Jarrah. Dia menekankan pada jaminan hak untuk berdemonstrasi secara damai.

"Situasi yang sedang berlangsung bermula dari kurangnya resolusi politik yang telah berlangsung terlalu lama, dan solusinya terletak pada pembentukan dua negara yang hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan dengan Yerusalem sebagai ibu kota kedua negara," ujar Le Drian.

Ketegangan meningkat sejak pengadilan Israel memerintahkan penggusuran keluarga Palestina dari lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur. Hal itu menyebabkan aksi protes dari warga Palestina yang diikuti oleh serangan Israel terhadap warga sipil Palestina. Ketegangan di Yerusalem Timur telah meluas menjadi bentrokan antara polisi Israel dan warga Palestina di sekitar Masjid al-Aqsa.

Konfrontasi pecah antara warga Palestina dan polisi Israel di beberapa bagian Yerusalem Timur pada Ahad (9/5), termasuk di Sheikh Jarrah dan di luar Kota Tua serta di Haifa, yaitu kota campuran Arab-Yahudi di Israel utara. Kementerian Kesehatan Palestina pada Rabu (12/5) mengatakan, korban meninggal dunia dari serangan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza naik menjadi 65, termasuk lima wanita dan 16 anak-anak. Sementara 365 orang terluka.

Serangan Israel terjadi setelah kelompok Hamas meluncurkan sekitar 100 roket, termasuk tujuh di Yerusalem. Sementara sisanya menargetkan Ashkelon, Sderot, dan permukiman di dekat Jalur Gaza. Serangan roket itu terjadi sebagai tanggapan atas serangan Israel yang berkelanjutan di Masjid al-Aqsa, dan penggusuran keluarga Palestina dari lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang diduduki. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA