Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Pemerintah Dorong Ekspor Tanaman Hias

Kamis 13 May 2021 06:30 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Bayu Hermawan

Airlangga Hartarto

Airlangga Hartarto

Foto: Istimewa
Menko Airlangga mengatakan peningkatan ekspor sebagai upaya pemulihan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi pelepasan ekspor program florikultura dan benih sayuran. Menurutnya ekspor itu mempercepat program Pemerintah dalam upaya pencapaian pemulihan ekonomi nasional melalui peningkatan ekspor.

Florikultura atau tanaman hias yang merupakan salah satu bagian dari subsektor hortikultura, dinilai memiliki potensi besar dikembangkan di Indonesia. Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia memberikan peluang bisnis tanaman hias baik untuk penyediaan kebutuhan dalam negeri maupun dunia yang pasarnya masih terbuka lebar.

Baca Juga

Global market value tanaman hias mencapai nilai 22,329 miliar dolar AS. Angka itu lebih tinggi dibandingkan kopi dan teh. Hanya saja, Indonesia baru memenuhi ceruk pasar dunia sebesar 0,1 perssen.

Selain ekspor tanaman hias, Indonesia juga mempunyai potensi besar dalam ekspor benih sayuran ke mancanegara. Hampir semua produk sayuran di Indonesia punya potensi pasar di luar terutama di Asean, seperti Malaysia dan Thailand.

Beberapa komoditas yang cukup banyak permintaannya, meliputi kangkung, tomat, buncis, labu, dan kacang panjang. Hanya saja permintaan ekspor lebih luas daripada segi produksi.

"Ke depan untuk peningkatan ekspor benih bisa ditingkatkan kerja  sama beberapa perusahaan benih di Indonesia. Tujuannya membuka pasar ekspor dan promosi bersama ke luar negeri dengan fasilitasi Pemerintah," ujar Airlangga melalui siaran pers.

Pengembangan agribisnis tanaman hias dan benih sayuran ini, menurutnya akan menumbuhkan lapangan pekerjaan baru di setiap elemen rantai pasok. Termasuk di dalamnya pengembangan dan perbanyakan bibit berteknologi melalui kultur jaringan. 

Selain itu, inovasi teknologi, pengembangan lahan produksi, standarisasi dan sertifikasi produk perlu ditingkatkan dan menjadi fokus utama.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari sampai Maret 2021 mencapai 48,90 miliar dolar AS atau meningkat 17,11 persen dibanding periode sama 2020. 

Kinerja ekspor pada Maret 2021 mencapai 18,35 miliar dolar AS. Angka ini tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan hampir melampaui posisi tertinggi sejak Agustus 2011 yang saat itu nilai ekspornya sebesar 18,64 miliar dolar AS.

"Sektor pertanian telah memberikan kontribusi positif sebesar 2,15 persen pada Maret. Ekspor pertanian secara kumulatif pada Januari sampai Maret 2021 sebesar 1,05 miliar dolar AS, mengalami kenaikan sebesar 14,29 persen terhadap periode sama pada 2020," katanya.

Di sisi ekspor, nilai ekspor florikultura pada tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Pada 2018, nilai ekspor sebesar 12,07 juta dolar AS, lalu pada 2019 sebesar 13,53 juta dolar AS atau naik 12,1 persen, dan pada 2020 naik cukup signifikan menjadi sebesar 19,98 juta dolar AS.

Airlangga menyampaikan arahan yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada acara Jakarta Food Security Summit (JFSS), inisiasi Closed Loop perlu terus dikembangkan terutama dalam rangka pengembangan kemitraan dari hulu ke hilir. Kemitraan Closed Loop perlu guna meningkatkan produktifitas.

Pemerintah akan terus memberikan dukungan kebijakan bagi pelaku usaha untuk melakukan ekspor. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Eximbank terus memberikan dorongan berupa bantuan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Berorientasi Ekspor bagi usaha berorientasi ekspor termasuk juga usaha rintisan ekspor dengan maksimal omset sebesar Rp 50 miliar. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA