Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Khutbah Idul Fitri: Memaknai Fitrah Menuju Indonesia Maju

Rabu 12 May 2021 18:20 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Khutbah Idul Fitri KH Nurul Badrut Tamam mendudukkan makna fitrah. Ilustrasi sholat idul fitri

Khutbah Idul Fitri KH Nurul Badrut Tamam mendudukkan makna fitrah. Ilustrasi sholat idul fitri

Foto: Antara
Khutbah Idul Fitri KH Nurul Badrut Tamam mendudukkan makna fitrah

REPUBLIKA.CO.ID, Khutbah Idul Fitri 1442 H 

Oleh KH Nurul Badruttamam, MA, Pengurus Lembaga Dakwah PBNU

Baca Juga

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

X9 أَللهُ أَكْبَرُ  

أَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً. الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَعَادَ اْلأَعْيَادَ وَكَرَّرَ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ خَلَقَ وَصَوَّرَ. وَأَشَهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ  لاَشَرِيْكَ لَهُ. شَهَادَةً يَثْقَلُ بِهَا الْمِيْزَانُ فىِ الْمَحْشَرِ. اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْفَائِزِيْنَ بِالشَّرَفِ اْلأَفْخَرِ

أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمِكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ. وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمِ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْكَرِيْمِ وَنَحْنُ عَلَى ذَالِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ  

Allahu Akbar 3X, Allahu Akbar Walillahilhamd

Jamaah Sholat Idul Fitri  Fitri yang terhormat

Dalam suasana 1 Syawal pagi hari yang khidmat, berselimut rahmat dan kebahagiaan ini, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur yang setulus-tulusnya ke hadirat Allah SWT atas curahan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita semua. Sehingga di pagi yang cerah ceria ini kita bisa menunaikan sholat Idul Fitri  Fitri dengan berjamaah, khusyuk dan tertib meski di tengah-tengah pandemik Covid-19 seperti ini.

Izinkanlah pada khutbah Idul Fitri  Fitri 1442 H ini, khatib menyampaikan khutbahnya dengan mengambil sebuah tema: “Mengurai Makna Fitrah di Tengah Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Maju.” 

 

Allahu Akbar 3X, Allahu Akbar Walillahilhamd

Jamaah Sholat Idul Fitri  Fitri yang terhormat

Alhamdulillah, hari demi hari di bulan Ramadhan ini bisa kita lalui dengan baik. Tanpa kita sadari, kita kini telah sampai pada hari yang penuh dengan kegembiraan, hari yang penuh dengan kemulian, dan hari yang penuh dengan fitri. Mudah-mudahan, perjalanan ibadah di bulan suci ini, Allah sempurnakan dan kita diberi karunia untuk membawa bekal sebanyak-banyaknya dari jamuan Allah di bulan mulia ini.

Jika kita periksa Ramadhan demi Ramadhan yang telah kita lalui, mestinya Kita bertanya : “Apa yang paling berharga yang bisa kita peroleh dari seluruh Ramadhan yang lalu ?“ Pertanyaan ini penting, sebab dari sana kita bisa memperoleh gambaran yang jelas tentang prestasi ibadah shaum kita selama ini. Jangan sampai ibadah shaum yang selama ini kita lakukan ternyata tidak berbekas sama sekali. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعِ وَالْعَطْشِ  “Berapa banyak orang berpuasa, namun tidak memperoleh keutamaan apa pun, selain lapar dan haus belaka”. Insya Allah, setelah Ramadhan kita akhiri, tentu saja bukan berarti berakhir pula suasana ketakwaan kita kepada Allah SWT, tetapi justru kita harus mampu membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan itu dengan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT, karenanya bulan sesudah Ramadhan kita akan bertemu dengan bulan Syawal, yang artinya peningkatan. Di sinilah letak pentingnya memelihara ibadah Ramadhan, terutama dalam menjaga ketakwaan kita kepada Allah SWT. 

 

Allahu Akbar 3X, Allahu Akbar Walillahilhamd

Jamaah Sholat Idul Fitri yang terhormat

Hari raya Idul Fitri yang disambut umat Islam di seluruh antero dunia dengan kumandang takbir dan tahmid yang menggema, meski dalam suasana pandemi Covid-19 seperti ini lantuna takbir masih menggelora memenuhi seluruh angkasa raya adalah wujud kemenangan dan rasa syukur kaum Muslimin kepada Allah SWT atas keberhasilannya meraih fitrah (kesucian jiwa) melalui mujahadah selama satu bulan penuh di bulan suci Ramadhan yang baru berlalu.  Allah SWT menegaskan dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ Artinya: “Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

Allahu Akbar 3X, Allahu Akbar Walillahilhamd

Jamaah Sholat Idul Fitri yang berbahagia

Dalam suasana kebahagiaan ini, kita ingin menghayati kembali makna kefitrian kita sebagai manusia. Idul Fitri yang dimaknai kembali kepada kesucian rohani atau kembali ke asal kejadian, atau kembali kepada agama yang benar, mengisyaratkan bahwa setiap orang yang merayakan Idul Fitri  Fitri sebenarnya ia sedang merayakan kesucian rohaninya, mengurai asal kejadiannya dan menikmati sikap keberagamaan yang benar, keberagamaan yang diridhai Allah SWT. Allah SWT dalam Alquran surat Al-Fathir ayat 18-21 menegaskan :

وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيْرُ. وَمَا يَسْتَوِى اْلأَعْمَى وَالْبَصِيْرُ. وَلاَالظُّلُمَاتُ وَلاَالنُّوْرُ. وَلاَالظِّلُّ وَلاَالْحَرُوْرُ

Artinya: “Barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia telah mensucikan diri untuk memperoleh kebahagiaanya sendiri. Dan hanya kepada Allah-lah tempat kembali (mu). Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan terang benderang, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas”.

Allah SWT membandingkan orang baik dengan orang jahat laksana orang yang melihat dengan orang yang buta, laksana terang dan gelap, laksana teduh dengan panas. 

Sungguh sebuah metafora yang menarik untuk kita renungkan. Allah SWT seolah-olah hendak menyatakan bahwa manusia yang suci dan bersih, manusia yang baik dan berguna, manusia yang menang dan bahagia itu, adalah mereka yang mau dan mampu melihat problema masyarakat secara cermat dan bijak, dan kemudian bersedia memecahkannya, mereka yang mampu menjadi lentera di kala gelap, dan menjadi payung berteduh di panas. Mereka inilah pemilik agama yang benar, agama yang hanifiyah was samhah,  terbuka dan lapang, toleran dan pemaaf, damai dan santun. Inilah agama tauhid, agama Nabi Ibrahim dan anak keturunannya: Ismail, Ishaq, Ya’kub, Yusuf dan Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, Idul Fitri pada hakikatnya memberikan pendidikan kepada kita, bahwa syariat Islam mengajarkan kepada kesucian, keindahan, kebersamaan dan mengarahkan umatnya memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, rukun dalam kebersamaan dan bersama dalam kerukunan. Segala kelebihan yang melekat dalam diri manusia dalam bentuk apapun, hendaknya disadari bahwa selain merupakan nikmat, ia juga sekaligus sebagai amanat.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA