Kamis 13 May 2021 16:30 WIB

Dokter: Mengurangi Garam Turunkan Risiko Hipertensi

Manusia dianjurkan mengonsumsi garam 5-6 gram sehari, tapi sulit menghitungnya.

Membubuhi garam pada makanan. Saat makan di luar, minta penjual tidak menggunakan garam sama sekali pada masakan. Bubuhi sendiri ketika sudah dihidangkan agar konsumsi garam bisa lebih terkontrol untuk menghindari risiko hipertensi.
Foto: Reiny Dwinanda/Republika
Membubuhi garam pada makanan. Saat makan di luar, minta penjual tidak menggunakan garam sama sekali pada masakan. Bubuhi sendiri ketika sudah dihidangkan agar konsumsi garam bisa lebih terkontrol untuk menghindari risiko hipertensi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) menyampaikan, mengurangi konsumsi garam dapat menurunkan risiko hipertensi serta berbagai penyakit yang ditimbulkan faktor darah tinggi. Manusia dianjurkan mengonsumsi garam 5-6 gram sehari. 

"Namun dalam praktiknya kita tidak bisa menghitung kadar garam yang dikonsumsi sehari-hari, sehingga untuk menguranginya, kurangilah konsumsi garam sedapat mungkin," kata Ketua PERHI Erwinanto, dalam acara Media Briefing Hari Hipertensi Sedunia 2021 yang ditayangkan secara daring, pekan lalu.

Erwinanto mengatakan, upaya mengurangi kadar garam dalam tubuh bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan sehari-hari tanpa garam. Selain itu, diet sehat juga dapat menurunkan hipertensi, termasuk dengan cara mengonsumsi banyak sayur, banyak kuah, dan sedikit lemak jenuh serta sedikit gula.

Dikatakan Erwinanto, olahraga secara teratur 30 menit per hari minimal 5 hari dalam sepekan juga dapat mencegah seseorang terkena hipertensi. "Kita juga perlu turunkan berat badan supaya upaya itu lebih efektif. Target lingkar pinggang orang Asia laki-laki kurang 90 sentimeter dan wanita 80 sentimeter. Ini usaha untuk ukur faktor risiko," katanya.

Selain itu, kata Erwinanto, masyarakat juga perlu menghindari atau meninggalkan kebiasaan merokok. Hipertensi yang didefinisikan sebagai tekanan darah 140 per 90 mmHg atau lebih merupakan masalah kesehatan yang tidak hanya menonjol di Indonesia, melainkan juga di dunia. 

Ada dua hal penyebabnya, pertama penyandang hipertensi itu jumlahnya sangat banyak. Diperkirakan 60 persen dari mereka yang berusia di atas 60 tahun adalah penyandang hipertensi. Kedua, katanya, masalah hipertensi menetap dalam waktu dekade. 

"Jumlahnya tidak turun-turun. Dari 2007 dan 2018 atau selama satu dekade, penyandang hipertensi di Indonesia sebesar 34 persen," katanya.

Di Amerika yang merupakan negara yang sangat maju, kata dia, selama tiga dekade tidak ada kecenderungan turun, justru meningkat. Hipertensi berkontribusi kedua terbesar terjadinya gagal ginjal setelah diabetes.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement