Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Museum Fraser Canyon Lestarikan Sejarah Warga Tionghoa

Selasa 11 May 2021 21:07 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Museum Fraser Canyon lestarikan budaya Tionghoa di Kanada sebelum Masehi (Foto: ilustrasi)

Museum Fraser Canyon lestarikan budaya Tionghoa di Kanada sebelum Masehi (Foto: ilustrasi)

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Museum Fraser Canyon lestarikan budaya Tionghoa di Kanada sebelum Masehi.

REPUBLIKA.CO.ID, LYTTON -- Museum Fraser Canyon di Lytton, British Columbia, Kanada, melestarikan sejarah warga Tionghoa di Kanada sebelum Masehi. Arsip-arsip mengenai kehidupan mereka terus dijaga dan tersaji di lokasi pameran peninggalan historikal itu.

Atas kiprahnya, museum mendapat penghargaan "Drs Wallace B and Madeline Chung Prize for Chinese Canadian Community Archiving". Pemberi penghargaan adalah Komunitas Sejarah Tionghoa Kanada British Columbia yang berbasis di Vancouver.

Baca Juga

Berdiri pada Mei 2017, Museum Fraser Canyon digagas oleh Lorna Fandrich dan suaminya. Lokasinya ada di situs bekas joss (kuil atau balai pertemuan Tionghoa Kanada). Pada Februari 2016, tempat itu resmi menjadi situs warisan.

Bangunan joss itu didirikan pada 1881 dan dirobohkan pada 1928. Lahan kosongnya dibeli oleh Fandrich pada 1980, yang memutuskan untuk membangun sebuah museum untuk menghormati komunitas Tionghoa setempat setelahnya.

Komunitas Sejarah Tionghoa Kanada memuji 200 benda seni di museum yang menceritakan banyak kisah sebelum Masehi. Masa gold rush, pembangunan jalur kereta api, adat istiadat, praktik budaya, dan sejarah pekerja Tionghoa era 1858-1928.

Museum juga dipuji karena basis data daringnya yang berisi sekitar 1.600 gambar artefak dan foto yang dikumpulkan dari seluruh provinsi. "Tercatat sebagai sumber daya yang berharga oleh para sarjana dan telah menarik minat dari seluruh dunia," kata perkumpulan tersebut di situs webnya.

Salah satu peninggalan yang menarik pada basis data itu adalah foto opium yang ada di kamp kerja Tionghoa. Studi Universitas Stanford menemukan bukti bahwa zat tersebut mungkin bukan digunakan untuk fungsi rekreatif.

Para ilmuwan menduga kuat opium tersebut sebetulnya digunakan sebagai pengobatan untuk cedera terkait pekerjaan, infeksi dan rasa sakit fisik dan psikologis dari pekerja kasar yang membebani pajak.

Penikmat sejarah yang hendak melihat langsung semua peninggalan itu bisa bertandang ke museum pada 22 Mei mendatang. Museum di Lytton biasanya buka dari Mei hingga September setiap tahun, Rabu hingga Senin.

Lorna Fandrich senang apa yang dia lakukan untuk melestarikan peninggalan bersejarah kini diakui. "Yang paling penting, (penghargaan) itu memberi saya lapisan kredibilitas lain dengan komunitas Tionghoa," ujarnya, dikutip dari CBC, Selasa (11/5).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA