Dampak Dahsyat Berzakat

Rep: Imas Damayanti/ Red: Esthi Maharani

 Selasa 11 May 2021 21:04 WIB

Zakat, ilustrasi Foto: ROL/Mardiah Zakat, ilustrasi

Dampak berzakat yakni mensucikan harta dan meningkatkan keimanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Seiring dengan dihadirkannya rezeki harta kepada sebagian orang, sesungguhnya dalam hartanya terdapat hak orang lain. Di sinilah zakat diwajibkan. Zakat memiliki dampak dahsyat yang perlu disadari umat.

Dilansir di About Islam, Selasa (11/5), menurut penelitian terbaru, ada lebih dari 1 miliar orang miskin di seluruh dunia yang bertahan hidup hanya dengan uang 1 dolar AS per hari. Sedangkan lebih dari setengah populasi global bertahan dengan kurang dari 10 dolar AS  per hari.

Kemudian, terungkap pula lebih dari 1.400 tahun yang lalu, Alquran yang Mulia menetapkan kewajiban bagi semua Muslim untuk merawat yang miskin dan yang membutuhkan. Salah satu pilar utama Islam adalah kewajiban bagi semua Muslim, yang mampu, untuk membayar zakat tahunan setiap tahun dengan hitungan 2,5 persen dari pendapatan.

Inilah yang dikenal sebagai Zakat yang dibayarkan selama Bulan Suci Ramadhan dan memiliki tanggung jawab sedemikian rupa sehingga puasa orang yang berpuasa tidak akan diterima sampai dibayar. Khususnya, membayar Zakat membantu seseorang lebih dari orang yang membutuhkan yang menerimanya.

Adapun dampak berzakat antara lain:
Pertama, mensucikan harta dan meningkatkan keimanan. Secara bahasa, kata Zakat berarti mensucikan kekayaan seseorang. Artinya, dengan berdonasi kepada mereka yang membutuhkan, seseorang benar-benar bisa membersihkan sisa kekayaannya yang membantu menghilangkan rasa kikir dari hati.

Seperti firman Allah dalam Alquran Surah Al-Hadid ayat 7: “Aaminuu billahi wa rasulihi wa anfiquu mimmaa ja’alakum mustakhlafina fihi. Falladzina aamanu minkum wa anfaquu lahum ajrun kabirun,”.

Yang artinya: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar,”.

Dan begitu kekayaan telah disucikan, maka secara spiritualitas keimanan seseorang yang berzakat akan semakin dalam. Di mana ia dapat meningkatkan taraf keimanan dengan melaksanakan perintah Allah atas apa yang dititipkan melalui harta yang dimiliki.

Kedua, meningkatkan kekayaan dan kedekatan kepada Allah SWT. Jika seseorang berzakat, ia memang menghabiskan sejumlah hartanya. Namun demikian, harta yang dizakatkan itu tidaklah habis atau bukan berarti ia merugi.

Bahkan Nabi memuji orang-orang yang menunaikan zakat: “Maa min yaumin yushbihu al-ibaadu fiihi illa malakaani yanzilaani fayaqulu ahaduhuma: allahumma a’thi munfiqan khalafan, wa yaqilul-aakharu: allahumma a’thi mumsikan talafan,”.

Yang artinya: “Setiap pagi dua malaikat turun mendampingi seorang hamba yang satu berdoa: ‘Wahai, Allah! Berikanlah ganti rugi bagi dermawan yang menyedekahkan hartanya. Dan yang satu lagi berkata: Wahai, Allah! Musnahkanlah harta si kikir,”.

Dijelaskan bahwa apa pun yang seorang Muslim berikan dalam beramal secara harta, maka sesungguhnya itu akan kembali kepadanya secara eksponensial. Yang terpenting, setiap kali dia mengulurkan tangan membantu yang kurang beruntung, ia akan menjadi lebih dekat kepada Allah.

Ketiga, membantu masyarakat dan menenangkan hati. Bagi umat Islam yang dengan setia menunaikan kewajiban ini, menunaikan zakat merupakan suatu kehormatan dan akta yang mulia dapat membantu mereka yang paling membutuhkan.

Ketika seseorang membayar Zakat, hatinya segera dilembutkan dan lega. Ini adalah kesempatan emas untuk membantu komunitas Muslim sambil membawa kedamaian di hati yang menunaikannya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X