‘Orang Bijak, Belanja Dengan Bijak’

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil

 Selasa 11 May 2021 19:38 WIB

Calon pembeli melintas di salah satu selasar di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (11/5/2021). Meskipun masih dalam masa pandemi COVID-19, warga tetap berbelanja ke pasar tersebut untuk memenuhi kebutuhan lebaran. Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga Calon pembeli melintas di salah satu selasar di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (11/5/2021). Meskipun masih dalam masa pandemi COVID-19, warga tetap berbelanja ke pasar tersebut untuk memenuhi kebutuhan lebaran.

‘Orang Bijak, Belanja Dengan Bijak’

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud menjelaskan, pada prinsipnya, belanja adalah transaksi tukar menukar barang dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan. Seiring berkembangnya zaman, belanja bukan hanya sekedar bertukar barang dengan uang tunai, tapi uang digital yang sangat berperan untuk mendorong perputaran ekonomi.

“Perputaran inilah yang mendorong kegiatan demi kegiatan berputar kepada orang lain sebagai putaran rejeki, di setiap tumpuk uang disitu ada putaran transaksi hak orang lain yang bisa mendorong rejeki orang lain berubah,” jelasnya kepada Republika, Senin (10/5).

Baca Juga

Namun, disamping perannya untuk melancarkan arus ekonomi, berbelanja sesuatu yang berlebihan tetap tidak disarankan, terlebih dari sudut pandang agama, kata Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu. Dibandingkan menghambur-hamburkan uang untuk berbelanja sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, sebaiknya momen Ramadhan dimaksimalkan untuk menggencarkan zakat, sedekah, infaq dan berbagi pada sesama, kata dia.

“Yang terpenting, apa yang dibelanjakan harus sesuai kemampuan, tidak melebih-lebihkan hal yang tidak perlu, karena kebutuhan kita tidak hanya hari ini, tapi juga hari esok untuk anak cucu kita. Orang bijak, belanja dengan bijak,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Ketua PP Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad yang mengajak masyarakat untuk menggelorakan semangat berbagi kepada sesama. Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ini juga mengingatkan agar tidak berlebihan saat berbelanja menjelang lebaran.

“Berbelanja untuk keperluan lebaran memang merupakan tradisi masyarakat Islam di tanah air, tetapi karena lebaran kali ini kita masih dilanda wabah, maka belanja lebaran sebaiknya tetap menjaga protokol kesehatan dan belilah sesuatu sesuai dengan kebutuhan, jangan berlebihan,” ujarnya kepada Republika, Ahad (9/5).

Kondisi yang masih serba terbatas, kata dia, juga membuat perayaan hari raya kali ini tidak seleluasa tahun-tahun sebelum Covid-19. Maka jika memiliki rizki yang lebih, dibanding berbelanja, akan lebih baik juga digunakan untuk memperbanyak sedekah atau menolong orang yang kesulitan atay terdampak pandemi, ujar Prof Dadang menyarankan.

“Lebaran sekarang kaum muslimin masih terbatas beraktivitas dan tidak bisa ke mana mana, untuk itu kenapa kita harus membeli baju baru dan barang barang baru, padahal banyak tetangga dekat maupun jauh, saudara, kerabat, yang kekurangan. Alangkah bijak dan baiknya jika kita mengutamakan pemberian pertolongan kepada mereka sebagai realisasi dari ibadah puasa sebulan kita,” ujar Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia itu.

Adapun cara yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan Ramadhan sebagai momen berbagi kebaikan adalah dengan menunaikan zakat mal sebagai kewajiban, jika sudah mencapai nisab atau batas wajib membayar zakat. Selain itu tunaikan zakat fitrah yang dianjurkan pada akhir Ramadhan.

“Perbanyak pula shodaqoh yang merupakan keutamaan di bulan Ramadhon. Terakhir, santuni anak panti asuhan dan panti jompo terdekat dengan rumah kita,” sarannya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengajak masyarakat yang memiliki kelebihan banyak berbagi di bulan Ramadhan. Wapres menilai, Ramadhan merupakan momentum tepat untuk masyarakat saling berbagi kebaikan.

"Mari kita semua ajak mereka yang memiliki kelebihan untuk berbuat kebajikan, berbagi, memberikan zakatnya, infaknya, dan sadaqah karena pada bulan Ramadan, banyak orang yang membutuhkan," kata Wapres dalam sambutannya di acara Tarhib Ramadhan, Jumat (9/4) malam.

Wapres mengatakan, apalagi Ramadhan kali ini masih di suasana pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang ekonominya terdampak. Karena itu, berbagi dapat meringankan penderitaan orang lain.

Ia juga mengatakan, Rasulullah mengajak umat bersama para ulama untuk berbuat kebaikan kepada masyarakat dalam suasana yang memprihatinkan. Rasulullah juga paling dermawan ketika dalam bulan Ramadan.

"Dan karena pahalanya juga sangat banyak, kebaikan dilipatgandakan, doa-doa juga diterima. Karena itu marilah saat ini kita ajak umat melakukan kebaikan-kebaikan itu," ungkapnya.

“Mari kita jadikan bulan Ramadan [sebagai] bulan untuk memohon ampun kepada Allah. Karena kita menyadari bahwa kita semua tidak ada yang luput dari dosa, kita bukan makhluk yang maksum (terpelihara dari dosa). Juga memohon perlindungan-Nya, inayah-Nya, karena kita bukan orang yang dijamin [masuk surga],” kata Wapres.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X