Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Ahli Ingatkan Potensi 'Tsunami' Covid-19 Usai Lebaran

Selasa 11 May 2021 17:08 WIB

Red: Andri Saubani

dr Pandu Riono

dr Pandu Riono

Foto: Tangkapan layar TVOne.
Menurut Pandu, Indonesia tinggal menunggu giliran alami 'tsunami' Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono menyarankan agar Pemerintah Indonesia bersiap mengantisipasi ancaman 'tsunami' Covid-19 usai Lebaran. Kasus Covid-19 di Indonesia diprediksi akan mengalami lonjakan lantaran mobilitas masyarakat meningkat khususnya terkait aktivitas mudik.

"Iya harus sudah diantisipasi bahwa akan terjadi lonjakan yang cukup besar, jadi tinggal siap-siap saja, rumah sakit disiapkan, tempat-tempat pemakaman disiapkan," kata Pandu, di Jakarta, Selasa (11/5).

Baca Juga

Pandu menuturkan, meskipun mudik dilarang, ternyata warga tidak bisa dilarang mudik, buktinya masih ada yang bisa lolos mudik. Untuk pengendalian Covid-19, semua pihak harus bekerja sama termasuk masyarakat agar tidak melakukan mobilitas tinggi, tidak mudik, dan tidak berkerumun.

Masyarakat juga harus menerapkan protokol kesehatan dengan semakin disiplin. Pandu menuturkan, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di sejumlah provinsi bukan lagi sekadar alarm tapi harus bersiap untuk kemungkinan kondisi yang lebih buruk ke depannya akibat peningkatan kasus Covid-19.

Menurut dia, Indonesia hanya tinggal menunggu giliran akan mengalami tsunami Covid-19 atau lonjakan kasus Covid-19 di mana beberapa negara di dunia sudah mengalami lonjakan kasus signifikan.

"Ini bukan alarm, kita harus siap siaga semua negara sudah mengalami lonjakan kok. Malaysia sudah, Thailand sudah, kan tinggal sebentar lagi Indonesia, kan tinggal nunggu giliran dari India terus negara tetangganya Nepal, Bangladesh, Malaysia, Thailand, nah Indonesia ini sebentar lagi habis Lebaran ya kita siap-siap," ujarnya.

Pandu mengatakan, kesiapsiagaan itu berupa penanganan Covid-19 terutama dari segi medis dan 3T (testing, tracing, treatment). Rumah sakit, alat-alat kesehatan, tempat tidur, tabung oksigen dan sebagainya harus benar-benar disiapkan agar tidak terjadi kekurangan saat lonjakan kasus terjadi.

Menurutnya, ancaman yang terjadi adalah lonjakan kasus secara bersamaan yang ketika itu terjadi, maka fasilitas kesehatan di daerah-daerah tidak akan mencukupi. Karena itu, yang harus dilakukan pemerintah Indonesia adalah mengantisipasi penanganan Covid-19 dari segi kesiapan medisnya.

"Persiapan semuanya, kalau perlu oksigen juga dipersiapkan, jangan sampai kekurangan oksigen, orang kan butuh napas, kalau sudah kena Covidberat itu sesak napas.Kayak di India sampai kehabisan oksigen, rumah sakit pada penuh semuanya tidak ada ambulans, semuanya pakai bajaj, tabung oksigennya ada di bajaj, kayak gitu lah sampai begitu mengenaskan. Kalau lihat di Malaysia sekarang semua tempat-tempat gedung itu kan langsung diubah menjadi tempat penampungan," ujar Pandu.

In Picture: Rumah Isolasi Bagi Warga Pemudik di Cipamokolan

photo
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di area Posko Kesehatan RW 04, Kelurahan Cipamokolan, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Selasa (11/5). Warga RW 04, Kelurahan Cipamokolan, Kecamatan Rancasari mengubah salah satu rumah warga yang tidak terpakai menjadi posko kesehatan yang juga berfungsi sebagai ruang isolasi bagi pemudik yang lolos dari penyekatan petugas selama larangan mudik Lebaran 2021. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)
 

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito juga mengatakan, tidak butuh lama untuk terjadi lonjakan drastis penambahan kasus Covid-19 jika tidak secara ketat melakukan protokol kesehatan dan masih melakukan mudik. Wiku mengajak belajar dari pengalaman di India.

Angka positivity rate di India pada Maret 2021 berada di angka 3,4 persen. Namun, kegiatan keagamaan dan politik yang menimbulkan kerumunan massa mendorong terjadinya kenaikan tingkat positif menjadi 22,2 persen per 6 Mei 2021.

"Hanya dalam waktu kurang dari dua bulan. Ini menunjukkan tidak butuh waktu lama untuk menaikkan kasus yang diakibatkan oleh abainya kita dalam menjaga protokol kesehatan," kata Wiku dalam konferensi pers Satgas Covid-19 di Graha BNPB, Jakarta, Selasa.

Sementara, kondisi Indonesia pada Maret 2021 memiliki rata-rata tingkat positif 14,7 persen yang turun menjadi 11,3 persen pada 6 Mei 2021. Menurut Wiku, setelah belajar dari pengalaman selama berbulan-bulan pandemi berlangsung akhirnya Indonesia menemukan formulasi yang tepat untuk menjaga kasus terus turun setiap harinya.

"Tentunya kita tidak mau kondisi Covid-19 di Indonesia yang sudah mulai menunjukkan perbaikan ini kembali memburuk," tambah Wiku, yang juga menjabat sebagai Koordinator Tim Pakar Satgas Covid-19.

Dia mengingatkan, bahwa jika semua pihak tidak menjaga agar penularan tidak semakin luas dengan tetap nekat melakukan mudik dan menemui saudara di kampung halaman, bukan tidak mungkin kasus Covid-19 akan kembali meningkat dan mencapai tingkat seperti India.

"Ketahuilah jika kita masih memaksakan untuk bertemu dalam rangka silahturahmi fisik baik dengan keluarga atau kerabat di manapun, maka kemungkinan besar kita dapat tertular dan menularkan Covid-19," demikian kata Wiku.

 

photo
Infografis anak-anak segera bisa divaksin Covid-19 - (Republika)

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA