Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Pangeran MBS Sambut Kunjungan Emir Qatar ke Saudi

Selasa 11 May 2021 06:27 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

Foto: AP Photo/Jacquelyn Martin
Pangeran MBS dan Sheikh Tamim akan membahas sejumlah hubungan bilateral.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) menyambut kunjungan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani ke Jeddah pada Selasa (10/5). Ini merupakan kunjungan perdana Sheikh Tamim ke Saudi sejak KTT Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) ke-41 di AlUla yang mendeklarasikan pemulihan hubungan kedua negara.

Seperti dilaporkan laman Al Arabiya, Pangeran MBS dan Sheikh Tamim akan meninjau serta membahas hubungan bilateral. Selain itu, mereka juga bakal membicarakan cara-cara meningkatkan aksi bersama di Teluk.

Pada 4 Januari lalu Saudi setuju mencabut blokadenya terhadap Qatar. Hal itu diumumkan menjelang perhelatan KTT GCC ke-41 yang digelar di AlUla, Saudi. Sheikh Tamim turut berpartisipasi dalam KTT tersebut. Langkah Saudi mencabut blokade terhadap Qatar diikuti oleh tiga negara lainnya, yakni Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pada Juni 2017, keempat negara tersebut mengembargo dan memblokade Qatar. Langkah itu diambil karena mereka meyakini Doha mendukung kegiatan terorisme dan ekstremisme di kawasan. Qatar dengan tegas membantah tuduhan tersebut.

Kendati telah menyanggah, Saudi, Mesir, Bahrain, dan UEA tetap memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Keempat negara itu kemudian memboikot dan memblokade seluruh akses ke Doha. Saudi serta sekutunya lalu mengajukan 12 tuntutan kepada Qatar.

Tuntutan itu antara lain meminta Qatar menurunkan hubungan diplomatik dengan Iran dan menutup media Aljazirah. Doha juga diminta menutup pangkalan militer Turki di negaranya. Jika menginginkan boikot dan blokade dicabut, Qatar harus memenuhi semua tuntutan tersebut. Namun Qatar menolak melakukannya karena menganggap semua tuntutan tak masuk akal. Akibat sikap tersebut, Qatar terkucil selama sekitar 3,5 tahun.

 

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA