Teks dan Naskah Khutbah Idul Fitri 2021 tentang Kesucian

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil

 Senin 10 May 2021 17:31 WIB

Teks dan Naskah Khutbah Idul Fitri 2021 tentang Kesucian . Foto: Idul Fitri Ilustrasi Foto: Republika/Wihdan Teks dan Naskah Khutbah Idul Fitri 2021 tentang Kesucian . Foto: Idul Fitri Ilustrasi

Naskah dan teks khutbah Idul Fitri 2021

REPUBLIKA.CO.ID,  Kesucian Manusia, Cinta-Kasih dan Persaudaraan Sesama


Oleh (Almarhum) Prof Dr. Nurcholish Madjid

Baca Juga

Kaum Muslimin Dan Muslimat Yang Terhormat,
Pertama-tama kita ucapkan syukur Kepada Allah subhanahuu wa-ta'ala atas nikmat-karunia yang telah kita terima, yang tidak terbilang banyaknya. Kita mohon bimbingan- Nya, karena barangsiapa dibimbing Allah maka tiada seorang pun mampu menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tiada seorang pun mampu membimbingnya.

Kita saksikan bahwa tiada suatu tuhan apapun selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa, ai-Ahad, yaitu Tuhan yang sebenar-benarnya. Dan kita saksikan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan hamba-Nya. Kemudian kita mohonkan salawat dan salam Allah untuk junjungan kita itu, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

lnilah hari raya kita semua. Hari raya kemanusiaan universal, hari raya kesucian primordial manusia, hari raya fitrah, hari raya manusia sebagai makhluk yang hanif, makhluk yang merindukan kebenaran dan kebaikan, yang berbahagia karena kebenaran dan kebaikan. Hari raya puncak perolehan keruhanian kita setelah berpuasa selama sebulan, hari raya kembali ke fitrah, kesucian asal ciptaan Allah untuk manusia, 'ldui-Fithr-i.

Kita kembali ke fitrah kesucian adalah atas bimbingan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, melalui latihan menahan diri yang kita jalankan dengan penuh ketulusan, yang kita genapkan bilangannya selama sebulan. Maka di hari ini kita kumandangkan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai pernyataan rasa syukur kita kepada Allah atas segala petunjuk-Nya itu.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:
"Dan hendaknya kamu sempurnakan bilangan hari berpuasa itu, kemudian hendaknya kamu kumandangkan takbir, mengagungkan Allah, atas hidayah yang telah dikaruniakan kepadamu, dan hendaknya kamu sekalian bersyukur". (QS.ai- Baqarah/2:185).
Disebabkan oleh hakikatnya yang terkait langsung dengan ajaran dasar agama, maka Hari Raya ini adalah peristiwa yang amat sentral dalam kehidupan kaum beriman. Maka marilah kita renungkan sejenak makna dan hakikat Hari Raya ini.

Secara budaya keagamaan di negeri kita tercinta ini, dengan kedatangan hari raya kesucian manusia ini kita ucapkan Minai-A'idin wa'I-Fa'izin, semoga kita semua tergolong mareka yang kembali ke fitrah, dan berhasil tidak sia-sia menjalankan ibadah puasa, ibadah latihan menahan diri terhadap godaan hawa nafsu pendorong kejahatan, al-nafs al-ammarah, dan membersihkan jiwa dari dosa.

Karena memang kembali ke fitrah itulah hasil dan wujud utama dari semangat takwa yang menjadi tujuan ibadat puasa. Tujuan itu terdapat secara umum dan universal pada semua manusia. Karena itu setiap umat mempunyai cara sendiri dalam menjalankannya. Semuanya itu dengan tujuan membentuk manusia yang bertakwa. Begitulah disebutkan dalam kitab suci:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu semua puasa sebagaimana telah diwajibkan atas mereka sebelum kamu, supaya kamu semua bertakwa". (QS.ai-Baqarah/2:183).

Lalu apa makna dan hakikat takwa itu? Yang utama dan pertama ialah beriman kepada Allah dalam keghaiban, dalam keadaan kita tidak melihat-Nya dengan mata kepala kita, namun kita menyadari kehadiran-Nya dalam hidup kita. Takwa ialah kesadaran bahwa Allah beserta kita di manapun kita berada, dan Allah itu Maha Tahu atas segala sesuatu yang kita perbuat.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya:
"Dia mengetahui apa yang masuk ke bumi dan yang ke/uar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan yang naik kepadanya. Dia bersama kamu di manapun kamu berada. Dan Allah Maha Melihat segala sesuatu yang kamu kerjakan". (QS. ai- Hadid/57:4).

 
Menanamkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup itulah tujuan semua ibadat, dan hikmah seluruh ajaran Tuhan dalam semua kitab suci. AI-Qur'an menyebut dirinya sebagai kitab yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yang sifat pertamanya ialah beriman kepada keghaiban, atau beriman dalam keghaiban. Al-Qur'an telah menyebutkam bahwa kitab-kitab suci sebelumnya yang diturunkan kepada para nabi, juga bertujuan mananamkan kesadaran bertakwa, walaupun dalam keadaan mereka tidak melihat-Nya namun sadar akan kehadiran-Nya, sama dengan tujuan al-Qur'an:


وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ (48) الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ (49) وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنزلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ (50

Artinya:
" Dan Sesungguhnya Telah kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. Dan al-Quran lni adalah suatu Kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang Telah kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?". (QS. al-Anbiya/21:48-50).

Berdasarkan ajaran pokok itu, al-Qur'an juga mengajarkan bahwa cobaan Allah berupa adanya godaan penyelewengan adalah untuk diketahui siapa yang takut kepada Allah dalam keghaiban, dan siapa yang tetap melanggar dalam keghaiban itu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya:

" Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat- Nya. barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, Maka baginya azab yang pedih". (QS. al-Ma'idah/5:94).

Beriman kepada Allah dalam keghaiban! Takut kapada Allah dalam keadaan kita tidak melihat-Nya, tapi kita menyadari akan kehadiran-Nya dalam semua kegiatan kita. ltulah takwa! ltulah tujuan kita berpuasa. Maka jika kita tidak dapat mencapai tujuan, dengan sendirinya puasa kita adalah sia-sia, tanpa guna. Kita berpuasa hanya mendapatkan derita Iapar dan dahaga semata.

Sebab jika kita masih melanggar batas dalam keghaiban, maka sesungguhnya kita tidak beriman. Atau, paling tidak iman kita cacat, tidak sempurna. Nabi SAW mengajarkan, bahwa orang tidak akan berbuat dosa selagi ia beriman. Atau, tidaklah orang beriman selagi ia menjalankan perbuatan dosa.


“Tidaklah orang berzina ketika berzina itu beriman; tidaklah orang mencuri ketika mencuri itu beriman; dan tidaklah orang itu minum khamar ketika meminumnya itu beriman". (Hadits sahih kitab Hujaj al-Qur'an, 1:47)

sumber : Kemenag.go.id
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X