Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

China akan Bentuk Garis Pemisah di Puncak Gunung Everest

Senin 10 May 2021 07:43 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya

Pendaki berfoto saat mencapai puncak Gunung Everest. Pemerintah Nepal mengeluarkan aturan memperketat izin mendaki ke puncak Everest setelah muncul kasus Covid-19 di base camp Everest akhir April 2021.

Pendaki berfoto saat mencapai puncak Gunung Everest. Pemerintah Nepal mengeluarkan aturan memperketat izin mendaki ke puncak Everest setelah muncul kasus Covid-19 di base camp Everest akhir April 2021.

Foto: EPA
Base camp Everest di sisi Nepal telah dilanda kasus virus korona sejak akhir April.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- China akan membentuk garis pemisah di puncak Gunung Everest sebagai langkah pencegahan pandemi Covid-19. Media pemerintah China melaporkan pada Ahad (9/5), garis pemisah ini mencegah pendaki dari Nepal dan pendaki dari sisi Tibet berbaur satu sama lain.

Base camp Everest di sisi Nepal telah dilanda kasus virus korona sejak akhir April. Pemerintah Nepal hingga saat ini belum melarang pendakian musim semi, yang biasanya berlangsung dari April hingga awal Juni sebelum hujan monsun. 

Kantor berita Xinhua yang mengutip biro olahraga Tibet mengatakan, sebuah tim kecil pemandu pendakian Tibet akan mendaki Everest dan memasang garis pemisah di puncak. Garis pemisah itu bertujuan untuk menghentikan kontak langsung antara pendaki dari kedua sisi puncak. 

Sebanyak 21 warga negara China sedang dalam perjalanan ke puncak Everest dari sisi Tibet. Pemandu Tibet akan mengatur garis pemisah sebelum kedatangan mereka. Namun tidak dijelaskan bagaimana cara pemandu Tibet itu memasang garis pemisah tersebut.

China tidak mengizinkan pendaki asing untuk naik dari sisi Tibet sejak wabah virus korona tahun lalu. Turis di kawasan Everest di Tibet juga dilarang mengunjungi base camp di sisi Tibet.

Pada Ahad (9/5), China daratan melaporkan 12 kasus Covid-19 baru yang melibatkan pelancong yang datang dari luar negeri. Sementara Nepal melaporkan 9.023 kasus pada Jumat (7/5).

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA