Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Hindari Jalur Penyekatan, Pemudik Gunakan Kapal Tradisional

Ahad 09 May 2021 20:26 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Agus Yulianto

Warga memanfaatkan kapal tradisional atau service boat di sepanjang pesisir teluk Jakarta untuk mudik ke wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Warga memanfaatkan kapal tradisional atau service boat di sepanjang pesisir teluk Jakarta untuk mudik ke wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Foto: Humas Ditjen Hubla
Yang lebih membahayakan adalah para penumpang pemudik itu tak menggunakan lifejacket.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beragam cara dilakukan para pemudik agar bisa sampai ke kampung halamannya. Salah satunya dengan menghindari jalur darat dan menggunakan jalur 'tikus' perairan pantai. 

Namun, usaha itu pun sia-sia. Ini karena patroli laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berhasil menggagalkan rombongan masyarakat yang nekat mudik melalui jalur laut pada Ahad, (9/5) di perairan Teluk Jakarta. Para pemudik gelap tersebut diberikan sanksi berupa teguran dan diwajibkan untuk putar balik.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kemenhub Ahmad menyebut patroli laut dilakukan dalam rangka pengawasan pelaksanaan pengendalian transportasi laut Idul Fitri 1442 H. Saat patroli berlangsung, Ahmad mengungkapkan, para petugas mendapati sekelompok masyarakat yang melakukan upaya mudik menggunakan Kapal service boat dari wilayah pesisir pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Kapal service boat merupakan kapal  penunjang bagi kapal-kapal yang berlabuh jangkar sebelum dapat sandar di pelabuhan yang berfungsi untuk melayani kebutuhan kapal.

"Kami menemukan tiga kapal service boat yang mengangkut warga yang tetap nekat mudik dan telah kami hentikan. Kami berikan penjelasan dan pengertian, lalu kami minta mereka untuk kembali ke tempat semula," kata Ahmad dalam keterangan pers, Ahad (9/5).

Ahmad sebelumnya mendapatkan informasi ada kapal tradisional atau service boat di sepanjang pesisir teluk Jakarta yang dimanfaatkan warga untuk mudik ke wilayah Cirebon dan sekitarnya. Lalu Syahbandar Tanjung Priok, Disnav Tanjung Priok, KSOP Sunda Kelapa dan Pangkalan PLP Tanjung Priok memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal tersebut baik yang berada di pesisir maupun yang melintas di Teluk Jakarta.

"Yang lebih membahayakan adalah para penumpang pemudik itu tidak menggunakan lifejacket," ujar Ahmad.

Ahmad memastikan, patroli laut bakal terus dilanjutkan guna mencegah pemudik via laut. "Hari ini baru pelaksanaan awal patroli terpadu di laut, kelanjutannya berdasarkan target dan hasil intelijen. Nantinya kami bisa saling bertukar informasi juga antar instansi lain di wilayah Tanjung Priok," pungkas Ahmad.

Diketahui, patroli tersebut diikuti 4 unsur yaitu Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Priok, Kantor Distrik Navigasi Tanjung Priok, Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Tanjung Priok dan Kantor KSOP Sunda Kelapa.

Patroli laut ini mengerahkan beberapa kapal negara milik Distrik Navigasi Tanjung Priok yaitu KN. Enggano, KN. MIAPLACIDUS dan 6 RIB (Rigid Inflatable Boat) terdiri dari 2 RIB  Pangkalan PLP Tanjung Priok dan 2 RIB Disnav Tanjung Priok serta RIB Sunda Kelapa dan RIB Kesyahbandaran Utama Tanjung Priok. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA