Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Oposisi: Jika Virus Dibiarkan akan Hancurkan India dan Dunia

Sabtu 08 May 2021 17:44 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Teguh Firmansyah

Seorang anggota keluarga, mengenakan Alat Pelindung Diri (APD), melakukan upacara terakhir untuk korban COVID-19 di tempat kremasi di New Delhi, India,  Kamis (29/4). Delhi melaporkan 25.986 kasus baru, 368 kematian dalam 24 jam terakhir dan terus berlanjut. berjuang dengan suplai oksigen.

Seorang anggota keluarga, mengenakan Alat Pelindung Diri (APD), melakukan upacara terakhir untuk korban COVID-19 di tempat kremasi di New Delhi, India, Kamis (29/4). Delhi melaporkan 25.986 kasus baru, 368 kematian dalam 24 jam terakhir dan terus berlanjut. berjuang dengan suplai oksigen.

Foto: EPA-EFE/IDREES MOHAMMED
India telah melaporkan lebih dari 400 ribu kasus dalam 24 jam terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Kementerian Kesehatan India telah melaporkan ada lebih dari 401 ribu infeksi Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Jumlah itu, termasuk 4.200 kematian baru.

Menanggapi hal tersebut, Pemimpin oposisi utama India, Rahul Gandhi, mendesak Perdana Menteri Narendra Modi dalam sebuah surat pada Jumat kemarin untuk menerapkan lockdown nasional. Termasuk, untuk mempercepat kampanye vaksinasi dan meningkatkan pelacakan virus serta mutasinya.

“Membiarkan penyebaran virus yang tidak terkendali di negara kita akan menghancurkan tidak hanya bagi rakyat kita tetapi juga bagi seluruh dunia,” kata Gandhi dikutip dari VOA Sabtu (8/5).

Hal tersebut juga dibenarkan oleh pakar kesehatan masyarakat. Mereka percaya jika statistik yang mengejutkan di India kemungkinan bisa lebih tinggi dan lonjakan kasus yang ada. Bahkan, dimungkinkan tidak akan mencapai puncaknya hingga akhir Mei.

Dalam pernyataan Inggris, varian Covid-19 baru dari India, dikategorikan sebagai varian yang perlu menjadi perhatian.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA