Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Melewatkan Dosis ke Dua Vaksin Covid-19, Apakah Berbahaya?

Jumat 07 May 2021 23:30 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Banyak pertanyaan terkait efek samping melewatkan vaksinasi ke dua Covid-19.

Banyak pertanyaan terkait efek samping melewatkan vaksinasi ke dua Covid-19.

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Banyak pertanyaan terkait efek samping melewatkan vaksinasi ke dua Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Vaksin Covid-19 diberikan sebanyak dua dosis dalam rentang waktu tertentu. Muncul pertanyaan, apa jadinya jika seseorang melewatkan waktu pemberian dosis vaksin yang kedua karena berhalangan atau kondisi tertentu?

Dokter Gagandeep Kang, ahli imunologi di Christian Medical College, Vellore, India, meyakinkan bahwa tidak perlu cemas berlebihan jika terlewat mendapat dosis kedua. Dengan catatan, seseorang tetap mendapatkan dosis kedua tersebut.

Baca Juga

Hal itu hanya menunda peningkatan antibodi dan tidak mengakibatkan hilangnya perlindungan dalam jangka pendek. Jangka waktu yang terlewat  tidak memerlukan pengulangan dosis pertama apabila jaraknya tidak terlalu lama.

Kang menjelaskan, jika seseorang mendapatkan dosis pertama vaksin dan baru mendapatkan dosis keduanya setelah beberapa tahun, barulah orang itu perlu mengulang dosis pertamanya. Pengulangan tidak dibutuhkan jika kurang dari waktu tersebut.

"Jika hanya dalam hitungan pekan, Anda tidak perlu khawatir. Meskipun dalam hitungan bulan, Anda kemungkinan besar tidak perlu melakukannya (pengulangan dosis pertama)," ujar Kang, dikutip dari laman The Print, Jumat (6/5).

Dalam kasus pasien yang telah pulih dari Covid-19, ada beberapa pendapat berbeda mengenai pemberian vaksin. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan agar dia segera divaksin setelah sembuh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan pasien itu menunggu enam bulan pascakesembuhan. Sementara, sebagian besar dokter di India merekomendasikan untuk mendapat vaksinasi antara satu sampai tiga bulan setelah pulih.

Kang merekomendasikan untuk menunggu setidaknya empat hingga delapan pekan setelah pemulihan sebelum mendapat vaksin. Pasalnya, tubuh pasien secara alami telah membentuk antibodi selama infeksi Covid-19.

"Karena masih merespons infeksi, vaksinasi pada saat itu akan menyia-nyiakan vaksin. Panduan WHO untuk menunggu hingga enam bulan didasarkan pada bukti bahwa infeksi memberikan perlindungan yang wajar," kata Kang.

Jika seseorang divaksin ketika masih positif Covid-19, para pakar belum mengetahui apakan itu lebih baik atau lebih buruk. Belum ada bukti pasti dalam hal tanggapan kekebalan tubuh atau masalah keamanan.

Pada kasus lain, ada orang yang tertular Covid-19 di antara jadwal pemberian dua dosis vaksin. Kang menyampaikan, bagi sebagian besar orang, penyakit yang terjadi cenderung ringan hingga sedang.

Apabila terinfeksi satu sampai tiga pekan setelah menerima dosis pertama, vaksin kemungkinan tidak memiliki efek yang besar. Namun, jika seseorang positif tiga pekan sejak dosis pertama, kemungkinan besar hanya terkena penyakit ringan.

Begitu terinfeksi, tubuh mulai memproduksi antibodi, dan sekali lagi secara efektif mirip dengan mendapatkan vaksin. Pada prinsipnya, Kang menyarankan menunggu setidaknya empat pekan setelah sembuh sebelum mendapat dosis kedua.

Dalam pandangan Kang, perempuan yang hamil dan menyusui boleh mendapat vaksin Covid-19. Berdasarkan data, tampaknya aman bagi ibu hamil dan menyusui untuk menggunakan vaksin yang tersedia saat ini.

Meskipun, belum ada hasil spesifik dari uji coba kecuali dari sejumlah kecil perempuan yang sudah divaksin dan baru mengetahui bahwa mereka hamil. Dari hasil tersebut, tidak dijumpai hasil yang merugikan.

Menurut Kang, satu-satunya kelompok yang tidak boleh meneruskan vaksinasi adalah orang yang telah mendapat vaksin dan mengalami reaksi alergi yang parah. Hingga kini, belum ada bukti yang mengaitkan vaksin dengan jenis alergi lain.

Vaksin Covid-19 yang sekarang beredar disinyalir aman untuk orang yang memiliki alergi makanan, alergi obat, hingga alergi terhadap antibiotik. Pasien dengan gangguan kekebalan dan yang menjalani kemoterapi juga disarankan tetap mendapat vaksin.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA