Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Turki Desak Tentara Bayaran Tinggalkan Libya

Sabtu 08 May 2021 00:50 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.

Foto: Matthias Balk/dpa via AP
Cavusoglu tegaskan dukungan Turki tak bisa disamakan dengan pasukan asing ilegal.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Pasukan asing dan tentara bayaran harus meninggalkan Libya. Namun pasukan asing tak boleh disamakan dengan pasukan legal yang melatih militer Libya dalam kesepakatan dengan pemerintahan sah. Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Kamis.

“Ada banyak pasukan asing dan tentara bayaran di Libya. Kami sepakat dengan penarikan mereka,” kata Cavusoglu pada konferensi pers bersama dengan sejawatnya dari Jerman Heiko Maas di Berlin.

Sumber, https://www.aa.com.tr/id/dunia/turki-desak-pasukan-asing-dan-tentara-bayaran-tinggalkan-libya/2232064

Baca Juga


Namun dia menekankan bahwa dukungan pelatihan militer Turki untuk pemerintah Libya yang sah tak dapat disamakan dengan para pasukan dan tentara bayaran ini.

Cavusoglu juga menilai, desakan agar Ankara mengakhiri dukungannya kepada pemerintah Libya akan merusak pemerintah yang sah itu. "Perjanjian antara kedua negara berdaulat melayani kebutuhan penting Libya untuk pelatihan dan konsultasi militer, dan mengakhiri dukungan ini tidak akan menguntungkan Libya," kata Cavusoglu.

Seruan dari pihak ketiga untuk mengakhiri kesepakatan antara kedua negara, tegasnya,  bukanlah pendekatan yang tepat. Perjanjian kerja sama keamanan 2019 antara Turki dan Libya bertujuan untuk membantu mengakhiri perang saudara di negara Afrika Utara itu.

Cavusoglu juga menekankan bahwa pemerintah Libya yang baru dibentuk harus didukung untuk membantu negara itu mempersiapkan pemilu pada akhir tahun ini dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Libya telah melihat perkembangan positif sejak 5 Februari, ketika pihak-pihak yang bersaing menyepakati badan eksekutif baru untuk memerintah negara itu menjelang pemilihan nasional pada Desember ini.

Rakyat Libya berharap pemerintahan baru akan mengakhiri perang saudara selama bertahun-tahun yang melanda negara itu sejak penggulingan Muammar Khaddafi pada 2011.

 

sumber : Anadolu
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA