Bisnis di Bulan Ramadhan di India Rontok Selama Pandemi

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Esthi Maharani

 Sabtu 08 May 2021 00:14 WIB

Umat Muslim salat dan berbuka puasa pada hari pertama bulan suci Ramadhan di Masjid Jama, di New Delhi, India, Rabu, 14 April 2021. Foto: AP/Manish Swarup Umat Muslim salat dan berbuka puasa pada hari pertama bulan suci Ramadhan di Masjid Jama, di New Delhi, India, Rabu, 14 April 2021.

Sektor bisnis di India hancur berkeping-keping

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Nihal Fatima dan saudara perempuannya menjalankan bisnis pakaian Islami secara daring maupun luring di daerah Muslim Solapur di pinggiran Bhandup yang jauh di Mumbai. Bisnis baru mereka, Saiyyada Hijab, terdampak lockdown Covid pertama di India tahun lalu.

"Stok kami macet selama tiga bulan. Klien yang telah membayar pesanan mereka tidak dapat dilayani. Kami memiliki stok besar di gudang kami yang kami keluarga dengan potongan harga setelah masa lockdown dikurangi tahun lalu," kata dia dilansir dari laman Salaam Gateway, Jumat (7/5).

Bulan demi bulan berlalu, Nihal mengatakan akan menutup bisnisnya pada Ramadhan tahun ini. Sebab, gelombang virus corona kedua yang mematikan di India memaksanya untuk berhenti menerima pesanan sama sekali.

"Vendor menerima pesanan hanya dengan syarat bahwa mereka tidak bertanggung jawab jika stok macet karena lockdown. Kurir menolak melakukan pengiriman ke rumah yang tidak disukai pelanggan akhir," katanya.

Pengusaha yang bekerja dari rumah, Sana Ansari, juga menghadapi masalah serupa. Sebelum pandemi, ia memiliki bisnis mehndi cone (semacam tato India) dan attar yang berkembang pesat, yang sangat diminati selama Ramadan.

"Pasar India sedemikian rupa sehingga orang ingin merasakan dan menyentuh apa yang mereka beli," kata Sana, yang beroperasi dari area Mohammad Ali Road-Crawford Market, tempat belanja Ramadan di pusat kota Mumbai.

Namun, selama pandemi tidak memungkinkan bagi dirinya untuk memenuhi permintaan, sekalipun pelanggan membeli secara online. Karena sektor logistik betul-betul rontok dan telah menjadi mimpi buruk. "Kami tidak bisa mengirim," tuturnya.

Farid Shaikh dari Komite Aman, sebuah organisasi sosial yang berbasis di Mumbai, menjelaskan, sektor bisnis baru saja hancur berkeping-keping. Dia memperkirakan setidaknya 150 ribu hingga 200 ribu pekerja telah meninggalkan kota Mumbai karena penutupan bisnis.

Mohammad Saud Shingati, pedagang grosir semi tekstil di Pasar Dubash di Mumbai Selatan, mengatakan, bisnis di bulan Ramadhan biasanya mencatatkan penjualan setidaknya dua kali lipat dari biasanya. Tetapi penjualan sekarang turun ke nol dan Mohammad Saud tidak melihat adanya peluang untuk pulih. Dia telah menutup tokonya di pasar grosir dan telah menuju ke kampung halamannya di Karnataka.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X